Tampilkan postingan dengan label Cendekiawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cendekiawan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 Februari 2011
Ahmadiyah Disayang, Ahmadiyah Ditendang
Tahun 1907, seorang wanita dari kalangan elite Jerman, Carolyn, masuk Islam. Putri keluarga turunan bangsawan Prusia ini tertarik Islam setelah membaca buku-buku agama Islam yang bagus dan berstandar Eropa.
Masuk Islamnya Carolyn sangat menggemparkan orang Jerman saat itu. Maklumlah, awal abad ke- 20, wajah Islam di Eropa masih terlihat prengus dan kotor. Propaganda politik dan media massa di Eropa terhadap wajah Islam yang bengis dan menakutkan masih menghantui bangsa Jerman. Masuk Islamnya Carolyn barangkali adalah momentum penting dari “perkenalan” Islam di Jerman— negara termaju dan terbesar di dunia saat itu setelah Inggris Raya. Islamnya Carolyn pun membawa dampak besar: orang Eropa, khususnya Jerman, mulai sedikit mengurangi “alergi”-nya pada Islam. Keterkejutan berikutnya terjadi lagi pada 1982. Sebuah masjid besar berdiri di Kota Pedro Abad, kota kecil di Provinsi Cordova, Spanyol.
Masyarakat Spanyol ramai membincangkan berdirinya Masjid Basyarah yang megah itu karena inilah masjid pertama yang dibangun di Spanyol dalam kurun 750 tahun setelah musnahnya kejayaan Islam di Eropa yang berpusat di Negeri Matador itu. Bagi bangsa Eropa Barat yang pernah diduduki imperium Islam selama 750 tahun, kehadiran masjid tersebut membangkitkan kembali kenangan kekalahan Eropa yang Kristen di tangan Imperium Turki Osmani yang Islam. Lalu, 21 tahun kemudian, tepatnya tahun 2003, masyarakat Eropa kembali dikejutkan oleh berita dibangunnya masjid Islam termegah dan terbesar di Eropa Barat, yaitu Masjid Baitul Futuh, di Distrik Morden, Kota London, Inggris.
Majalah berkala di Inggris The Informer menyebutkan bahwa Masjid Baitul Futuh merupakan salah satu bangunan dari 50 bangunan terkenal dan terbaik di dunia. Pada 2003, masyarakat Eropa juga dibuat tercengang dan kagum ketika media-media Eropa memberitakan bahwa umat Islam di Jerman dalam kurun waktu 50 tahun ke depan akan membangun 100 buah masjid di seluruh Jerman. Salah satunya yang telah sangat menggemparkan masyarakat Jerman, khususnya masyarakat Kota Berlin, ialah pembangunan Masjid Khadijah di Kota Berlin pada akhir 2008. Setelah itu, peresmian Masjid Mubarak di Distrik Saint Prix, Paris, Prancis.
Orang Eropa yang menghargai kebebasan dan hak asasi manusia tampaknya menyokong pembangunan tempat-tempat ibadah Islam tersebut. Ini terjadi karena ajaran Islam yang disebarkan di masjid-masjid itu mengusung tema love for all, hatred for none (cinta kepada siapa pun, tidak benci kepada siapa pun). Saat ini, sudah ribuan, bahkan jutaan, buku diterbitkan di Amerika, Eropa, Asia, dan Australia oleh umat Islam yang membangun masjid-masjid megah di Eropa tersebut. Jutaan orang telah diajak memahami Islam yang agung, mulia, dan penuh kasih melalui buku-buku itu.
Kebanggaan
Di pihak lain, nun jauh dari Eropa, dalam sebuah pengajian akbar yang dihadiri ribuan umat Islam di Yogyakarta, awal tahun 1980-an, seorang dai terkenal KH Ir HA Syahirul Alim, MSc, dosen kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UGM, dengan bangga menyatakan bahwa akhir abad ke-20 merupakan momentum kembalinya Islam di pentas ilmu pengetahuan tingkat dunia. Saat itu, umat Islam di seluruh dunia sedang menikmati euforia “Nobel Fisika” yang diterima Prof Dr Abdus Salam dari Pakistan pada 1979.
Prof Dr Ahmad Baiquni, ahli fisika nuklir, yang bersahabat baik dengan Abdus Salam diundang berceramah di mana-mana di Indonesia untuk menjelaskan kesesuaian ayat-ayat Alquran dengan ilmu pengetahuan alam yang telah mengantarkan Abdus Salam meraih Nobel Fisika yang amat bergengsi itu. Penerbit Pustaka Bandung secara khusus menerbitkan buku kecil berjudul Islam dan Ilmu Pengetahuan karya Prof Baiquni yang di dalamnya menjelaskan penemuan sang nobelis Abdus Salam tersebut. Salam menjadi penerang sains Islam dan menjadi penggugah kaum muslimin untuk kembali meraih kejayaan di bidang sains yang pernah digenggamnya pada abad ke ketujuh sampai ke-15, tulis Republika.
Harian Islam terbesar di Indonesia ini juga memuji Salam sebagai saintis Islam terbesar dan ilmuwan muslim pertama yang mendapatkan hadiah Nobel paling bergengsi di bidang fisika atom di tengah terpuruknya sains Islam dalam lima abad terakhir. Abdus Salam kelahiran Pakistan, 29 Januari 1926 itu meraih gelar doktor fisika dalam usia 26 tahun dari Cambridge University, Inggris. Abdus Salam dalam penelitiannya berhasil menemukan fakta bahwa sesungguhnya semua gaya yang ada di jagat raya—yaitu gaya gravitasi, elektromagnet, nuklir kuat, dan gaya nuklir lemah–– hakikatnya merupakan satu kesatuan. Ide penelitian Abdus Salam ini, menurut pengakuannya, terinspirasi dari pernyataan Alquran dalam Surah Al-Mulk ayat 3 tentang keseimbangan ciptaan Allah.
Abdus Salam meninggal tahun 1996. Dunia Islam berbelasungkawa amat dalam atas kepergiannya. Dua pemimpin Pakistan yang amat bermusuhan, Benazir Bhuto dan Ziaul Haq, bersatu memberikan gelar pahlawan Pakistan sejati untuknya. Kerajaan Arab Saudi yang menggelar karpet merah ketika Abdus Salam datang ke Tanah Suci ikut belasungkawa atas wafatnya Salam. Mereka sayang kepada Abdus Salam karena beliau telah mengharumkan nama Islam di pentas internasional. Lalu, siapakah Prof Abdus Salam yang punya energi luar biasa untuk mencari titik temu ayat-ayat Alquran dengan ilmu pengetahuan alam itu? Umat Islam yang mana yang membangun masjid megah di Spanyol setelah 750 tahun nama Islam terkubur di Negeri Real Madrid itu?
Buku karya siapakah yang berhasil mengislamkan Carolyn, wanita bangsawan Prusia yang kemudian membalikkan citra Islam di Jerman itu? Ternyata, mereka semua adalah orang-orang Ahmadiyah. Abdus Salam adalah orang Ahmadiyah. Yang membangun masjid di Spanyol juga orang Ahmadiyah. Buku yang dibaca Carolyn juga karya orang Ahmadiyah. Orang-orang Ahmadiyah punya banyak prestasi luar biasa karena punya prinsip mendahulukan cinta dan karya dalam beragama. Salah satu tafsir Alquran yang fenomenal di dunia, The Holy Quran, karya Maulana Muhammad Ali, intelektual Ahmadiyah, menjadi bacaan yang menginspirasi tokoh-tokoh pejuang Indonesia seperti Bung Karno dan HOS Cokroaminoto. Di dunia, The Holy Quran juga menjadi rujukan kajian Islam di Eropa dan Amerika.
Tapi bagaimana kini di Indonesia? Orang Ahmadiyah yang telah mengharumkan nama Islam di dunia internasional itu kini ditendang. Rumahnya dihancurkan. Mereka dicerca, mereka disiksa. Negeri dengan 200 juta umat Islam itu lupa bahwa sumbangan Ahmadiyah terhadap syiar Islam itu luar biasa. Orang Ahmadiyah yang jumlahnya jutaan di dunia tampaknya hanya bisa bersabar menunggu redanya amarah masyarakat Indonesia yang, katanya, cinta Rasul Muhammad itu.
Seandainya umat Islam bertanya kepada Jalaluddin Rumi dan Ibnu Arabi, apa bedanya antara jamaah Ahmadiyah dan jamaah Islam Ahli Sunnah, jawabannya niscaya seperti ini: kedua jamaah ini sama-sama mencintai Allah dan Rasul-Nya, Muhammad. Sampai titik ini, marilah kita merenung: Rasulullah diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia, agar sesama manusia saling mengasihi dan saling mencintai. Bukan sebaliknya, menyerang dan menyiksa manusia hanya karena perbedaan paham seperti di Pandeglang dan Bogor.(*)
Rabu, 04 Maret 2009
Wajah Suram Pluralisme

By; Zuhairi Misrawi
Sejak Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa pengharaman pluralisme, relasi antar kelompok, khususnya antara kalangan mayoritas dan minoritas, baik dalam intra-agama maupun antar-agama mengalami keretakan dan goncangan yang cukup serius.
Puncaknya adalah tragedi Monas, yang menyebabkan puluhan aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyaninan (AKBB) terluka, dan beberapa orang diantaranya harus dioperasi secara intensif. Secara sepintas, tragedi tersebut dapat dipahami sebagai eskalasi “diskursus bernuansa kekerasan” menuju “tindakan kekerasan”. Perayaan sejumlah anak bangsa atas hari kelahiran Pancasila, yang mengamanatkan kebhinekaan berubah menjadi lautan kekerasan yang tak terbayarkan.
Pada hakikatnya diskursus tentang kekerasan merupakan sesuatu yang termaafkan, dan tidak bisa dihindari. Apalagi di zaman yang mana transformasi pemikiran menjadi sesuatu yang niscaya. Di belahan dunia manapun, pemikiran tentang radikalisme dan anarkisme berkembang, baik yang berlatarbelakang agama maupun politik. Tetapi, demokrasi mampu memastikan, bahwa diskursus bernuansa kekerasan tidak diperkenankan sama sekali untuk menjadi sebuah fakta kekerasan yang menyebabkan jatuhnya korban.
Di Singapura, mereka yang mempunyai pandangan keagamaan yang intoleran dapat dikatakan merupakan sebuah pandangan mayoritas. Mereka mempunyai pandangan yang menjurus pada klaim kebenaran. Tetapi, negara yang merupakan bagian terpenting dalam implementasi demokrasi telah mampu mengerem berbagai aksi kekerasan, karena kekerasan merupakan barang haram dalam ranah demokrasi. Mendiang Benazir Bhuto (2008) dalam Reconciliation: Islam, Democracy and the West, menyatakan bahwa tidak mungkin demokrasi dan kekerasan disandingkan dalam satu pelaminan negara.
Maka dari itu, hampir dapat dipastikan bahwa kekerasan merupakan musuh utama demokrasi. Kekerasan akan membuat demokrasi terseok-seok dan berada dalam ancaman terus-menerus. Lihat, misalnya, jika kelompok-kelompok yang mengusung ide dan tindakan kekerasan itu menguasi ruang publik, maka hampir bisa dipastikan tidak akan ada kemufakatan yang dapat diambil. Ia akan menjadi sebuah bentuk baru kediktatoran yang mengatasnamakan agama.
Tantangan Pluralisme
Politisasi kekerasan dapat dilihat dalam berbagai bentuknya. The Wahid Institute (2008) dalam laporan akhir tahunnya, melakukan pemetaaan terhadap tantangan pluralisme, terutama fakta kekerasan terhadap kelompok minoritas dalam delapan bentuk: Pertama, penyesatan terhadap kelompok/individu. Setidaknya dari Januari-Nopember 2008, telah terjadi 50 kasus penyesatan terhadap kelompok yang dianggap berbeda atau tidak sepaham. Adapun kelompok yang paling banyak menjadi korban dari penyesatan tersebut, yaitu Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
Kedua, kekerasan bernuansa agama. Sepanjang tahun 2008, tercatat ada 55 kasus yang menyebabkan kelompok minoritas menjadi korban aksi kekerasan sebuah kelompok yang kerapkali menganggap sebagai “penjaga akidah” dan representasi kalangan mayoritas. Uniknya, meskipun kelompok ini sudah terbukti melaksanakan aksi penyerangan terhadap berbagai kelompok yang dianggapnya “sesat” dan “menyimpang”, tetapi pemerintah tidak mengambil tindakan yang semestinya. Bahkan, tatkala sejumlah elemen kelompok masyarakat meminta pembubaran atas kelompok tersebut, tetapi pemerintah sepertinya tidak mempunyai keberanian untuk mengambil tindakan.
Ketiga, regulasi bernuansa agama. Sepanjang tahun 2008, ada 28 masalah yang merupakan bentuk regulasi bernuansa agama. Seiring dengan desentralisasi politik, maka daerah mempunyai kewenangan untuk membuat kebijakan sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang Otonomi Daerah. Tapi, kenyataannya masih muncul regulasi bernuansa agama yang kerapkali bukanlah mandat pemerintah daerah. Uniknya, semangat kebangsaan dan kebhinekaan tidak menjadi pertimbangan utama dalam penerbitan regulasi tersebut.
Keempat, konflik tempat ibadah. Setidaknya tercatat ada 21 kasus yang berkaitan dengan konflik tempat ibadah. Pada umumnya yang menjadi korban dari pendirian tempat ibadah adalah kelompok ibadah, utamanya kalangan Kristiani dan sebagian umat Hindu dan Budha. Pemerinta sebenarnya sudah mengeluarkan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, tahun 2006 perihal pedoman kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadat. Tetapi, faktanya di lapangan konflik pendirian tempat ibadah masih menjadi masalah serius, karena adanya pemahaman “sesat” terhadap kelompok lain dan ketakutan terhadap perbedaan dan keragaman keyakinan umat.
Kelima, kebebasan berpikir dan berekspresi. Ada 20 kasus yang dapat memberangus kebebasan berpendapat. Yang paling mutakhir adalah pencekalan atas syuting film Lastri. Masyarakat diindikasikan mempunyai sensitvitas yang tinggi terhadap masalah yang berkaitan dengan keyakinan dan ideologi tertentu.
Keenam, hubungan antar-agama. Sepanjang tahun 2008, ada sekitar 7 kasus yang dapat dipahami sebagai bentuk retaknya hubungan antar-agama. Fakta di lapangan, kebencian terhadap agama lain masih menjadi keyakinan sebagian umat. Hidup berdampingan secara rukun dan damai dipahami sebagai barang mahal.
Ketujuh, fatwa-fatwa keagamaan. Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa fatwa keagamaan dimotori oleh MUI. Lembaga yang sejatinya hanya mengurusi internal umat Islam, tetapi dalam prakteknya mereka juga melakukan advokasi ruang publik, bahkan pandangannya kerapkali dijadikan sebagai justifikasi oleh negara, baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat lokal. Tentu saja, tatkala fatwa tersebut memasuki ranah publik, utamanya dalam bentuk kebijakan publik, maka akan mementingkan kelompok tertentu dan merugikan kelompok lain. Kebangsaaan pada akhirnya merupakan taruhan utamanya.
Kedelapan, moralitas dan pornografi. Ada 17 kasus yang berkaitan dengan masalah moralitas dan pornografi. Lagi-lagi, yang hendak ditawarkan kepada ruang publik adalah moralitas menurut kacamata agama tertentu. Yang paling mutakhir adalah Undang-Undang Pornografi. Meskipun mendapat penentangan yang keras dari masyarakat, khususnya kelompok minoritas, tetapi UU tersebut tetap disahkan oleh DPR.
Tentu, sejumlah kasus di atas dapat dijadikan landasan kuat, bahwa pluralisme pada tahun 2008 mempunyai wajah suram. Yang mana, jika praktek tersebut tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pada tahun-tahun mendatang, maka disintegrasi dan konflik sosial akan semakin menganga.
Amartya Sen (2006) dalam Identity and Violence memberikan pendasaran sosiologis yang sangat menarik, bahwa kekerasan terjadi akibatnya menguatnya ilusi tentang identitas yang soliter dalam sebuah kelompok. Jika identitas tersebut tidak didialogkan dalam ruang publik dalam koridor demokrasi, maka akan menjadi parasit yang amat serius.
Dengan demikian, kembali kepada Pancasila dan UUD 1945 merupakan jalan keluar yang mesti diambil oleh pemerintah, DPR dan masyarakat. Sebab politik identitas hanya akan mengantarkan bangsa ini pada kubangan kehancuran dan ketidakpastian di masa mendatang.
Langganan:
Postingan (Atom)