Tampilkan postingan dengan label Ahmadiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmadiyah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 18 Februari 2011
Ahmadiyah, Surga Neraka, Urusan Allah

JAKARTA- Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas'udi di kantornya di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat memberikan wawancara seputar penyerangan, kekerasan, dan pembunuhan jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, seperti yang diungkapkan detikcom sebagai berikut:
Bagaimana tanggapan anda soal penyerangan terhadap jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten?
Pertama-tama yang ingin saya tegaskan, negara itu wajib melindungi rasa aman dari seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan agama, keyakinan maupun suku dan sebagainya. Itu pertama yang harus betul-betul ditunaikan tanpa tawar-menawar lagi. Dan untuk itu, negara sudah memiliki segala persyaratan yang dibutuhkan, ada aparat kepolisian dengan perangkatnya termasuk untuk penindakan sampai intelijennya. Kalau polisi tidak sanggup, bisa menggunakan aparat lainya seperti militer.
Kalau perlu Nahdlatul Ulama (NU) siap membantu dan amankan segenap warga. Jangan sampai ada kezaliman di antara warga dan sesama warga. Pertumpahan darah itu mutlak harus dihidarkan. Satu nyawa hilang itu sudah terlalu banyak. Kalau nyawa sampai hilang bukan karena nyawa, tapi itu sama saja menghilangkan seluruh umat manusia, ini adalah sesuai Alquran.
Jadi membiarkan seorang warga negara terbunuh tanpa alasan pembunuhan, maka sebenarnya sama saja membiarkan seluruh warga negara ini terbunuh. Bahkan di dalam Alquran bukan hanya seluruh warga negara, tapi seluruh umat manusia, bila ada nyawa seorang dibiarkan melayang tanpa alasan yang setimpal.
Berkaitan dengan soal keimanan, negara kita kan bukan negara agama, bukan negara agama tertentu. Tetapi negara yang melindungi keyakinan segenap warganya, maka negara tidak boleh mendiskriminasi perlindungan kepada warga negara atas pertimbangan keyakinan tertentu, itu tidak boleh. Dan, NU berada di belakang misi negara itu.
Apakah konflik terjadi karena perbedaan keyakinan di antara warga itu sendiri?
Itu yang sebenarnya tidak boleh. Perbedaan keyakinan memang tidak mungkin dihindari, karena agama memang teksnya terlalu mendalam dan luas. Oleh karena itu tafsir terhadap teks agama itu suatu keniscayaan. Tidak ada suatu ajaran agama yang hanya ada satu tafsir dan semua tafsir sebenarnya itu dilindungi. Bahwa ada yang mengaku dirinya benar dan yang lain itu salah, itu biasa. Tetapi kalau semua mengaku benar dan semua mengaku yang lain salah, maka sesungguhnya tidak ada yang mutlak benar.
Perbedaan keyakinan tidak bisa menjadi alasan untuk memaksa keyakinan saya terhadap orang lain. Karena yang memberikan petunjuk ke jalan benar itu hanya Allah. Innaka laa tahdi man ahbabta walakinnallaaha yahdi man yasya, sesungguhnya kamu tidak bisa memastikan hidayah kepada orang lain, hanya Allah lah yang dapat memasukan hidayah kepada hamba-Nya yang dikehendaki (surat Al Qoshosh ayat 56).
Di dunia ini kan bukan surga dan juga bukan neraka. Jadi di sini itu ada yang baik dan ada yang buruk, ada yang kafir, ada yang mukmin, ada yang tersesat dan ada yang mendapatkan hidayah, inilah dunia. Jangan berpikir dunia ini adalah surga, dan semuanya harus mukmin. Dan jangan berpikir bahwa dunia ini adalah neraka, semuanya harus kafir, tidak seperti itu.
Soal surga-neraka, tersesat dan mendapatkan hidayah hanya Allah yang tahu. Bahkan
dalam Islam, kalau ada orang mengkafirkan orang lain, maka boleh jadi sesungguhnya
dia kafir. Jadi jangan gampang mengkafirkan orang. Anda boleh saja meyakini seyakin-yakinnya apa yang anggap anda imani benar, tapi jangan pada saat yang sama mengaku sayalah satu-satunya paling benar, orang lain salah atau menuding keyakinan orang lain itu salah.
Jadi bagaimana sebaiknya menghadapi jemaat Ahmadiyah?
Saya ambil contoh di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat asuhan almarhum KH Ilyas Ruhyat (mantan Rais Am PBNU), di sekitar itu sudah berpuluh-puluh tahun ada sebuah masjid Ahmadiyah. Pas bertetanggaan dengan pesantren, dan dari dahulu tidak pernah ada santri yang menggruduk atau mengejek anggota jemaat Ahmadiyah. Mereka bebas menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya, itulah yang terjadi di lingkungan NU sebenarnya.
Bahwa anda memiliki keyakinan seperti itu dan anda bertekad menjalankannya, itu hak anda. Memang kita memang mempunyai kewajiban moral untuk melakukan dialog, memberi tahu atau dakwah. Tetapi melakukan dakwah mengajak orang mendekatkan dengan keyakinan kita harus dengan bil hikmah atau bijaksana. Tidak ada kata paksaan dalam dakwah itu. Apabila kita sudah berdakwah atau kita sedikit bermujadalah(perdebatan). Kok masih tidak mau menerima apa keyakinan kita, ya sudah, kewajiban kita sudah gugur. Tidak ada keimanan yang bisa dipaksakan. Mungkin orang bisa dipaksa tubuhnya, tapi hatinya tidak bisa dipaksa.
Dakwah yang paling efektif itu dakwah melalui perilaku, bukan dengan kata-kata, apalagi dengan kekerasan. Kalau orang Islam memperlakukan orang lain dengan kekerasan dan kekejaman, itu sebetulnya dia sedang melecehkan secara telak agamanya sendiri. Karena orang akan bertanya, loh agamanya mulia, tapi kenapa perilaku dan akhlaknya buruk dan kejam? Jadi orang Islam yang suka dan sering memekikan suara keras dan jihad, sesungguhnya dia bukan membela Islam, tapi sedang meruntuhkan kewibawaan dan nama baik Islam.
Kawasan Cikeusik, Pandeglang, Banten walau dikenal masyarakatnya keras tapi belum pernah terjadi bentrokan antar keyakinan agama. Apakah ini ada rekayasa untuk memicu kekerasan itu sendiri?
Memang belakangan ini, sekitar sepuluh tahun belakangan terakhir ini pengaruh dari kelompok-kelompok radikal yang dibiayai dengan uang yang banyak dari Timur Tengah menjalar ke mana-mana. Meskipun kita ketahui dalam dunia Islam, perbedaan mazhab dan perbedaan tafsir itu sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sejak zaman para sahabat itu sudah ada orang menafsiri sebuah ayat yang sama dengan tafsir yang berbeda. Jadi sesungguhnya itu sudah alami dan memang tafsir itu bisa berbeda-beda.
Tapi tafsir yang berbeda dan diikuti dengan pemaksaan, penistaan sampai pembunuhan baru belakangan ini lebih marak. Jadi dahulu pernah ada pada zaman klasik itu. Misalnya konflik antara lain dengan kaum Khawarij dan Syiah sampai pertumpahan darah dan lainnya. Kemudian orang berpikir bila lama-lama seperti ini bisa habis, maka wisdom atau kearifan yang muncul, bahwa tidak ada di dunia manapun yang memiliki satu tafsir, tapi banyak dan berbeda-beda.
Untuk mensikapi adanya tafsir-tafsir yang berbeda ini, ya sudah kita sama-sama menghormatinya. Bahwa kami juga minta dihormati untuk mengikuti tafsir kami, sebagaimana anda juga kami menghormati untuk mengikuti tafsir anda. Itulah yang paling fair (adil), toh kita sama-sama tidak tahu siapa yang sesungguhnya secara hakiki di jalan yang benar. Kita hanya berdoa saja kepada Allah SWT untuk dibimbing di jalan yang benar. Kita tidak boleh mengklaim bahwa saya sudah sepenuhnya berada
di jalan yang benar, itu tidak boleh karena itu namanya takabur.
Kita salat setiap hari lima waktu ada 17 rakaat, kita setiap rakaat selalu baca Al Fatihah dengan doa ihdinash shiroothol mustaqiim, tunjukilah kami ke jalan yang benar. Itu artinya apa? Orang Islam setiap menjalankan ibadahnya sekalipun tidak boleh mengklaim bahwa saya sudah ada di jalan yang benar. Justru kita harus terus memohon kepada Allah untuk dibimbingnya. Justru kita harus rendah hati dan jauh untuk mengklaim saya sudah ada di jalan yang benar, apalagi sambil menuding orang lain kau sesat dengan diikuti tindakan kekerasan. Ini nauzubillah minzaliq, itu jauh dari kebenaran.
Apakah bisa dikatakan semakin banyaknya tindak kekerasan mengatasnamakan agama karena pengaruh radikalisme Timur Tengah?
Memang tindakan manusia tidak pernah bisa disederhanakan pada satu faktor saja, selalu ada multi faktor. Taruhlah faktor faham radikalisme itu memiliki peranan, meskipun tidak seratus persen. Tapi juga ada faktor-faktor lainnya, misalnya faktor adanya provokator dan yang tidak kalah penting faktor kelambanan aparat pemerintah dalam bertindak preventif. Ini sangat penting sekali.
Oleh karena itu, ini harus menjadi catatan yang sangat kuat bagi kita bahwa semua faktor-faktor yang bersifat pemahaman tidak bisa berdiri sendiri. Kalau ada orang yang berbeda faham, kemudian tumbuh menjadi saling curiga sampai saling membenci. Tapi kalau aparat keamanan pemerintah bertindak tegas, tentunya tidak akan meledak menjadi kenyataan. Itu yang kita sesalkan, kenapa aparat keamanan tidak bertindak tepat waktu.
Sebenarnya beliau-beliau itu sudah tahu ada riak-riak seperti di Banten atau Temanggung, itu sudah diketahui dua hari sebelumnya gelagat-gelagat itu. Persoalannya kenapa tidak dilakukan pencegahan? Sebenarnya itu hak aparat keamanan untuk mencegahnya, apalagi sudah ada tanda-tanda datangnya rombongan dari Solo, Semarang, Pekalongan ke Temanggung untuk melakukan tindakan kekerasan atas protes putusan pengadilan. Kenapa ini tidak dicegat di tengah jalan? Sebelum sampai ke tempat kejadian. Membiarkan mereka sampai ke tempat kejadian dan berkumpul ribuan orang itu pasti
akan sulit sekali. Tapi kan bisa dicegah sebelumnya, kan jarak Pekalongan-Temanggung, Solo-Temanggung tidak dekat. Sepanjang puluhan dan ratusan kilometer kan bisa dilakukan pencegahan. Ini yang kami sesalkan kenapa aparat tidak bertindak semestinya sesuai tanggung jawabnya melindungi masyarakat agar tidak bertumpah darah.
Kelambanan atau kelalaian aparat keamanan dan pemerintah ini bisa diartikan juga sebagai upaya memperkeruh konflik antar kelompok masyarakat beragama ini?
Kelambanan itu bisa dituduh sebagai by omission atau pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi karena pembiaran dan tidak mengambil tanggung jawab. Sekali lagi kami katakan, aparat keamanan harus ambil tanggung jawab melindungi masyarakat, apalagi yang menyangkut perbedaan keyakinan ini. NU sendiri akan mensupport aparat keamanan kalau soal ini.
Jadi bagaimana seharusnya menghadapi jemaat Ahmadiyah ini?
Kewajiban kita kepada orang yang berbeda keyakinan, kalau kita merasa terpanggil, ya dakwah atau mengajak dengan bijak. Kalau memang diperlukan semacam diskusi, dialog atau berdebat, adu argumentasi dengan cara santun daripada orang yang kita hadapi. Kalau sudah cara-cara itu kita lakukan dan mereka tidak mau berubah, ya sudah, kita sudah selesai kewajibannya.
Tidak ada sedikitpun ruang bagi kita untuk memaksa mereka agar meyakini apa yang kita yakini. Kalau kita memaksakan begitu, lagi-lagi kita telah mengklaim saya sudah berada di jalan yang sepenuhnya benar dan anda di jalan kesesatan. Kita harus terus memohon petunjuk kepada Allah SWT. Artinya kita harus lebih redah hati dan jauhkan mengklaim diri kita sudah berada di jalan yang benar. Kita berdoa semoga kita bisa dibimbing ke jalan yang benar, bukan kita yakin betul kita sudah berada di jalan yang benar.
Betulkah ada dalil yang membenarkan untuk memerangi kelompok semacam Jemaat Ahmadiyah atau aliran sesat lainnya?
Tidak ada, tidak ada dalil yang mengatakan orang bisa dibunuh karena perbedaan keyakinan. Memang dalam Alquran ada izin untuk memerangi orang lain dengan alasan agama, kalau memang kita diperangi. Kalau kita tidak pernah diperangi mereka, ya kita tidak boleh memerangi mereka.
Justru kalau kita hadapi dengan kelembutan, tentu hasilnya akan lebih baik. Ini sama ketika Rasulullah SAW akan dibunuh, tapi pedang musuhnya terjatuh. Nabi membiarkannya dan mengampuninya. Itu begitu kuatnya akhlak dan kelembutan hati yang bisa mengubah orang. Cara efektif mengubah keyakinan itu dengan akhlak yang baik, kesalehan amal, bukan dengan pedang.
Begitu juga di NU, kita akan menghadapi kelompok-kelompok ini dengan cara-cara santun dan dakwah yang bijak. Kalau ada yang melawan dengan kekerasan, kami serahkan kepada negara yang memiliki hak dan tanggung jawab. Negara punya hak monopoli untuk menindak pelaku kekerasan demi melindungi masyarakat lainnya. Tidak boleh masyarakat menggunakan alat kekerasan.
Bagaimana solusinya agar tidak terjadi pemaksaan dan penyerangan kepada kelompok agama yang beda keyakinan?
Jangan kita pernah memaksakan keyakinan kita kepada orang lain. Biarkan itu diserahkan kepada Allah yang akan memberikan hidayah. Memang dalam beberapa kasus belakangan ini, banyak yang menunjukan keimanan dengan cara penuh kesombongan. Padahal kesombongan ini lebih buruk dari kesesatan atau kejahatan itu sendiri serta lebih buruk dari dosa besar lainnya. Kesombongan atas keimanan kita itu lebih berbahaya dari yang lainnya.
Sumber: detikcom/(zal/iy)
Kamis, 17 Februari 2011
Sesat atau Tidak Allah yang Menentukan

PBNU: Sesat atau Tidak Allah yang Menentukan
Hery Winarno - detikNews
Jakarta - Majelis Ulama Indonesia secara tegas menyatakan bahwa Ahmadiyah sesat karena ajarannya menyimpang dari akidah Islam. Namun tidak demikian dengan Nahdatul Ulama (NU).
Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Mas'udi menyatakan bahwa Ahmadiyah belum tentu sesat. Sesat atau tidak, menurut Masdar bukan manusia yang menentukan.
"Sesat atau tidak, yang paling tahu itu adalah Allah," ujar Masdar saat rapat dengar pendapat antara Komisi VIII DPR dengan para pemuka Agama di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (17/2/2011) dini hari.
Menurut Masdar, agama seharusnya dijadikan landasan untuk kehidupan yang lebih damai. Untuk bisa mewujudkan hal tersebut diperlukan peran dan tugas tokoh serta pemimpin umat beragama untuk menjaga kerukunan.
"Kerukunan adalah tanggung jawab pemimpin umat beragama. Yang menentukan wajah umatnya adalah pemimpinnya," terangnya.
Terkait kekerasan dan aksi main hakim sendiri yang berbalut busana agama, Masdar mendesak pemerintah mengusut para pelakuknya. Ia pun mengusulkan agar pelaku dihukum lebih berat.
"Kekerasan atas nama agama, saya kira layak diberi hukuman dua kali lipat, yaitu untuk kezaliman dan atas penodaan agama yang diklaimnya," imbuhnya.
Sabtu, 12 Februari 2011
Ahmadiyah Disayang, Ahmadiyah Ditendang
Tahun 1907, seorang wanita dari kalangan elite Jerman, Carolyn, masuk Islam. Putri keluarga turunan bangsawan Prusia ini tertarik Islam setelah membaca buku-buku agama Islam yang bagus dan berstandar Eropa.
Masuk Islamnya Carolyn sangat menggemparkan orang Jerman saat itu. Maklumlah, awal abad ke- 20, wajah Islam di Eropa masih terlihat prengus dan kotor. Propaganda politik dan media massa di Eropa terhadap wajah Islam yang bengis dan menakutkan masih menghantui bangsa Jerman. Masuk Islamnya Carolyn barangkali adalah momentum penting dari “perkenalan” Islam di Jerman— negara termaju dan terbesar di dunia saat itu setelah Inggris Raya. Islamnya Carolyn pun membawa dampak besar: orang Eropa, khususnya Jerman, mulai sedikit mengurangi “alergi”-nya pada Islam. Keterkejutan berikutnya terjadi lagi pada 1982. Sebuah masjid besar berdiri di Kota Pedro Abad, kota kecil di Provinsi Cordova, Spanyol.
Masyarakat Spanyol ramai membincangkan berdirinya Masjid Basyarah yang megah itu karena inilah masjid pertama yang dibangun di Spanyol dalam kurun 750 tahun setelah musnahnya kejayaan Islam di Eropa yang berpusat di Negeri Matador itu. Bagi bangsa Eropa Barat yang pernah diduduki imperium Islam selama 750 tahun, kehadiran masjid tersebut membangkitkan kembali kenangan kekalahan Eropa yang Kristen di tangan Imperium Turki Osmani yang Islam. Lalu, 21 tahun kemudian, tepatnya tahun 2003, masyarakat Eropa kembali dikejutkan oleh berita dibangunnya masjid Islam termegah dan terbesar di Eropa Barat, yaitu Masjid Baitul Futuh, di Distrik Morden, Kota London, Inggris.
Majalah berkala di Inggris The Informer menyebutkan bahwa Masjid Baitul Futuh merupakan salah satu bangunan dari 50 bangunan terkenal dan terbaik di dunia. Pada 2003, masyarakat Eropa juga dibuat tercengang dan kagum ketika media-media Eropa memberitakan bahwa umat Islam di Jerman dalam kurun waktu 50 tahun ke depan akan membangun 100 buah masjid di seluruh Jerman. Salah satunya yang telah sangat menggemparkan masyarakat Jerman, khususnya masyarakat Kota Berlin, ialah pembangunan Masjid Khadijah di Kota Berlin pada akhir 2008. Setelah itu, peresmian Masjid Mubarak di Distrik Saint Prix, Paris, Prancis.
Orang Eropa yang menghargai kebebasan dan hak asasi manusia tampaknya menyokong pembangunan tempat-tempat ibadah Islam tersebut. Ini terjadi karena ajaran Islam yang disebarkan di masjid-masjid itu mengusung tema love for all, hatred for none (cinta kepada siapa pun, tidak benci kepada siapa pun). Saat ini, sudah ribuan, bahkan jutaan, buku diterbitkan di Amerika, Eropa, Asia, dan Australia oleh umat Islam yang membangun masjid-masjid megah di Eropa tersebut. Jutaan orang telah diajak memahami Islam yang agung, mulia, dan penuh kasih melalui buku-buku itu.
Kebanggaan
Di pihak lain, nun jauh dari Eropa, dalam sebuah pengajian akbar yang dihadiri ribuan umat Islam di Yogyakarta, awal tahun 1980-an, seorang dai terkenal KH Ir HA Syahirul Alim, MSc, dosen kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UGM, dengan bangga menyatakan bahwa akhir abad ke-20 merupakan momentum kembalinya Islam di pentas ilmu pengetahuan tingkat dunia. Saat itu, umat Islam di seluruh dunia sedang menikmati euforia “Nobel Fisika” yang diterima Prof Dr Abdus Salam dari Pakistan pada 1979.
Prof Dr Ahmad Baiquni, ahli fisika nuklir, yang bersahabat baik dengan Abdus Salam diundang berceramah di mana-mana di Indonesia untuk menjelaskan kesesuaian ayat-ayat Alquran dengan ilmu pengetahuan alam yang telah mengantarkan Abdus Salam meraih Nobel Fisika yang amat bergengsi itu. Penerbit Pustaka Bandung secara khusus menerbitkan buku kecil berjudul Islam dan Ilmu Pengetahuan karya Prof Baiquni yang di dalamnya menjelaskan penemuan sang nobelis Abdus Salam tersebut. Salam menjadi penerang sains Islam dan menjadi penggugah kaum muslimin untuk kembali meraih kejayaan di bidang sains yang pernah digenggamnya pada abad ke ketujuh sampai ke-15, tulis Republika.
Harian Islam terbesar di Indonesia ini juga memuji Salam sebagai saintis Islam terbesar dan ilmuwan muslim pertama yang mendapatkan hadiah Nobel paling bergengsi di bidang fisika atom di tengah terpuruknya sains Islam dalam lima abad terakhir. Abdus Salam kelahiran Pakistan, 29 Januari 1926 itu meraih gelar doktor fisika dalam usia 26 tahun dari Cambridge University, Inggris. Abdus Salam dalam penelitiannya berhasil menemukan fakta bahwa sesungguhnya semua gaya yang ada di jagat raya—yaitu gaya gravitasi, elektromagnet, nuklir kuat, dan gaya nuklir lemah–– hakikatnya merupakan satu kesatuan. Ide penelitian Abdus Salam ini, menurut pengakuannya, terinspirasi dari pernyataan Alquran dalam Surah Al-Mulk ayat 3 tentang keseimbangan ciptaan Allah.
Abdus Salam meninggal tahun 1996. Dunia Islam berbelasungkawa amat dalam atas kepergiannya. Dua pemimpin Pakistan yang amat bermusuhan, Benazir Bhuto dan Ziaul Haq, bersatu memberikan gelar pahlawan Pakistan sejati untuknya. Kerajaan Arab Saudi yang menggelar karpet merah ketika Abdus Salam datang ke Tanah Suci ikut belasungkawa atas wafatnya Salam. Mereka sayang kepada Abdus Salam karena beliau telah mengharumkan nama Islam di pentas internasional. Lalu, siapakah Prof Abdus Salam yang punya energi luar biasa untuk mencari titik temu ayat-ayat Alquran dengan ilmu pengetahuan alam itu? Umat Islam yang mana yang membangun masjid megah di Spanyol setelah 750 tahun nama Islam terkubur di Negeri Real Madrid itu?
Buku karya siapakah yang berhasil mengislamkan Carolyn, wanita bangsawan Prusia yang kemudian membalikkan citra Islam di Jerman itu? Ternyata, mereka semua adalah orang-orang Ahmadiyah. Abdus Salam adalah orang Ahmadiyah. Yang membangun masjid di Spanyol juga orang Ahmadiyah. Buku yang dibaca Carolyn juga karya orang Ahmadiyah. Orang-orang Ahmadiyah punya banyak prestasi luar biasa karena punya prinsip mendahulukan cinta dan karya dalam beragama. Salah satu tafsir Alquran yang fenomenal di dunia, The Holy Quran, karya Maulana Muhammad Ali, intelektual Ahmadiyah, menjadi bacaan yang menginspirasi tokoh-tokoh pejuang Indonesia seperti Bung Karno dan HOS Cokroaminoto. Di dunia, The Holy Quran juga menjadi rujukan kajian Islam di Eropa dan Amerika.
Tapi bagaimana kini di Indonesia? Orang Ahmadiyah yang telah mengharumkan nama Islam di dunia internasional itu kini ditendang. Rumahnya dihancurkan. Mereka dicerca, mereka disiksa. Negeri dengan 200 juta umat Islam itu lupa bahwa sumbangan Ahmadiyah terhadap syiar Islam itu luar biasa. Orang Ahmadiyah yang jumlahnya jutaan di dunia tampaknya hanya bisa bersabar menunggu redanya amarah masyarakat Indonesia yang, katanya, cinta Rasul Muhammad itu.
Seandainya umat Islam bertanya kepada Jalaluddin Rumi dan Ibnu Arabi, apa bedanya antara jamaah Ahmadiyah dan jamaah Islam Ahli Sunnah, jawabannya niscaya seperti ini: kedua jamaah ini sama-sama mencintai Allah dan Rasul-Nya, Muhammad. Sampai titik ini, marilah kita merenung: Rasulullah diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia, agar sesama manusia saling mengasihi dan saling mencintai. Bukan sebaliknya, menyerang dan menyiksa manusia hanya karena perbedaan paham seperti di Pandeglang dan Bogor.(*)
Rabu, 09 Februari 2011
Syahadat Ahmadiyah

Anggota jemaah Ahmadiyah diburu, dikepung ruang geraknya, seperti binatang. Bukan hanya oleh orang-orang di lapisan bawah, tapi juga oleh elite negara dan ulama. Wujudnya adalah kebijakan jahat yang dibuat elite tersebut dalam bentuk surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri, dan dikaitkan dengan undang-undang penistaan agama. Dalam SKB itu, Ahmadiyah jelas kehilangan hak-hak asasinya yang paling fundamental sebagai warga negara, yakni kebebasan berkeyakinan dan menjalankannya.
Sejumlah aktivis mengajukan review kebijakan dan undang-undang yang digunakan untuk mendiskriminasi dan membantai warga Ahmadiyah itu. Dasar pengajuan review tersebut adalah kebijakan yang diskriminatif itu dinilai bertentangan dengan konstitusi, yang menjamin kebebasan berkeyakinan serta beragama dan, karena itu, wajib hukumnya dibatalkan. Kita tahu semua, Mahkamah Konstitusi tidak mengabulkan permohonan tersebut.
Kalau bicara secara pribadi dengan para pejabat negara tersebut, mereka mengakui bahwa kebijakan negara itu diskriminatif dan melanggar konstitusi. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan bicara secara jernih pun bahwa setiap warga, apa pun keyakinannya, dijamin di negeri hukum ini mereka tidak berani. Saya melihat mereka takut. Takut terhadap siapa? Saya tidak tahu, tapi kesan saya, mereka takut terhadap "umat Islam".
Umat Islam adalah kolektivitas yang dibayangkan hidup, punya logika, dan punya jalan pikiran sendiri. Ia punya sikap tentang apa itu Islam dan apa itu bukan Islam. Barang siapa yang memahami Islam di luar pemahamannya dianggap mengancam Islam dan umat Islam dan, karena itu, harus dikeluarkan. Bila tidak mau keluar, tetap bernaung dalam nama Islam, ia dinilai pantas dimusnahkan.
Sikap umat seperti ini sebenarnya diciptakan dalam sejarah oleh sebuah otoritas agama atau ulama dan negara atas dasar penafsiran yang dinilai berlaku umum dalam tradisi otoritas tersebut. Peran ulama adalah membentuk paham-paham Islam mana yang benar dan mana yang tidak benar, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Sampai di situ tidak apa-apa. Tapi, ketika otoritas agama ini punya kekuasaan atau bisa menggunakan kekuasaan negara, paham tersebut bisa punya daya paksa dan bahkan daya musnah seperti yang kita saksikan di Pandeglang itu.
Negara bisa dipaksa atau mungkin dipersuasi oleh ulama, terutama Majelis Ulama dan para ulama di Kementerian Agama karena petinggi negara terkait takut dinilai membela hak-hak beragama jemaah Ahmadiyah. Mereka takut dinilai memusuhi umat Islam kalau menolak permintaan para ulama untuk mengkerangkeng jemaah Ahmadiyah.
Saya tahu para ulama itu sungguh-sungguh melihat Ahmadiyah sebagai ancaman terhadap umat Islam. Tapi para pejabat negara terkait sebenarnya tidak merasa seperti itu. Sebenarnya banyak di antara mereka yang memandang bahwa paham seperti yang dipegang oleh Ahmadiyah merupakan hak jemaah Ahmadiyah sendiri dan negara tidak boleh memaksa mereka berislam selain cara mereka sendiri. Mereka juga percaya bahwa negara wajib melindungi setiap keyakinan apa pun, termasuk keyakinan yang dikaitkan dengan Islam, seperti Ahmadiyah. Tapi elite negara itu takut terhadap umat kalau harus mengatakan demikian secara terbuka kepada publik. Mereka takut dinilai merusak Islam, dan takut dimusuhi umat Islam.
Ketakutan elite negara, yang umumnya awam dengan tafsir Islam, itu semakin menjadi-jadi karena hampir tidak ada ulama tandingan dari umat Islam yang berpengaruh untuk menyampaikan paham alternatif terhadap pandangan tentang Islam yang dinilai umum tersebut. Kita tahu ada sejumlah ulama atau intelektual yang menoleransi adanya perbedaan paham dalam Islam, termasuk yang berkaitan dengan akidah, karena mereka tahu bahwa perbedaan semacam itu punya sejarah yang panjang dalam tradisi Islam. Dan sah adanya.
Kita ingat bagaimana para pendukung Sayidina Ali dan para pendukung Sayidina Usman saling mengkafirkan, saling mengeluarkan mereka dari Islam. Padahal mereka semua para pengikut setia Nabi. Mereka berebut pengaruh. Bukan soal paham agama betul.
Kita tahu banyak ulama besar pada masa keemasan Islam yang lebih mengutamakan akal daripada wahyu, yang menganggap akal lebih penting daripada wahyu. Juga kita ingat perdebatan besar para ulama Asyariah dan Mu'tazilah tentang hakikat wahyu atau Al-Quran, apakah ia kekal (qadim) atau baru (hadis). Kita juga tahu ada ulama besar tasawuf, seperti Yazid Albustami atau Al-Hallaj, yang punya ungkapan ganjil bagi awam umat Islam ketika mengatakan, misalnya, "tidak ada Tuhan selain Aku"; "Aku adalah Tuhan", dan seterusnya.
Itu semua wilayah akidah dan, karena itu, beda paham dalam soal akidah juga biasa saja. Kalau Mirza Ghulam Ahmad mengaku dirinya seorang nabi, ya, tidak ada apa-apanya kalau kita melihat perbedaan paham para ulama pada zaman keemasan Islam tersebut. Jangankan yang mengaku sebagai nabi, yang mengaku dirinya sebagai Allah saja ada. Jangankan perbedaan paham dalam menafsirkan sumber doktrin Islam, yakni Al-Quran, yang menganggap Al-Quran kurang penting pun ada. Dan semuanya berdasarkan atas otoritas keulaman mereka.
Celakanya, para ulama yang berdiri di belakang SKB itu cukup tahu sejarah Islam, tapi mereka memilih secara selektif. Seleksi itu bukan karena mereka sudah bertemu dengan Allah dan mengatakan bahwa Allah membenarkan substansi SKB itu, tapi lebih karena perasaan dan sejarah sosial mereka sendiri dalam lingkungan ulama Indonesia yang jumud, yang mata hatinya tertutup terhadap kenyataan bahwa ini adalah Indonesia, negara Pancasila, bukan negara Islam.
Sejauh ini para ulama yang bernafsu mengeluarkan Ahmadiyah dari Islam cukup berhasil memonopoli arti dan makna Islam itu, sehingga paham yang lain harus dimusnahkan. Lebih dari itu, mereka kemudian berhasil juga menciptakan ketakutan di seantero negeri, termasuk kepada para jenderal yang paham keislamannya dari tradisi abangan itu.
Para elite negara begitu takut kepada umat Islam yang maknanya ciptaan para ulama itu. Mereka begitu percaya, kalau melawan paham ulama itu, mereka akan ditinggalkan umat Islam, yang membentuk hampir seluruh penduduk negeri ini. Kalau ditinggalkan, apalagi dimusuhi umat yang buatan ulama itu, habislah riwayat petinggi negara yang nasibnya bergantung pada pilihan umat itu, apakah itu presiden, anggota DPR, gubernur, maupun bupati. Pejabat-pejabat negara lainnya yang tak dipilih umat, seperti yang duduk di Mahkamah Konstitusi, kejaksaan, kepolisian, dan kementerian, juga takut karena bergantung pada para pejabat yang dipilih umat tersebut. Umat berkuasa, dan membuat takut seantero negeri.
Senin, 20 April 2009
The Largest Mosque in Western Europe
The Baitul Futuh Mosque, is a landmark building. The mosque itself is among the largest built in Europe. The design of the mosque has incorporated both Islamic and modern British architecture. The strategic planning of the entire site has blended the previous Dairy Factory into the new complex. The main auxiliary building has also been developed and refurbished to offer ancillary facilities. The mosque was opened on 3 October 2003.The complex also has to offer many facilities, such as various conference halls and auditoriums, a library and dining facilities. Events ranging from the Islamic 'Eid' celebrations to student career seminars have already been held at the site.
The site also has fully refurbished offices to house the administration of the various auxiliary organisations of the Ahmadiyya Community, such as the Youth Organisation; Women's Organisation; Over 40s Men's Organisation.
A non-profit making gymnasium is being set-up. Classes for both career development and the unemployed are already taking place.
It is our aim to continually work with the local community and to keep all informed of the progress, design and activities being hosted. The community has set-up the AMA Liaison Group, which comprises of Local Councillors, Residents Associations, Schools & Colleges, Church leaders and representatives of various other local organisations
Islam Awareness Week
As part of National Islam Awareness Week the Baitul Futuh Mosque in Morden will be holding open days from the 23rd November - 29th November 2008 (except Friday 28th November 2008) between 10 am and 4pm. You will be given a tour of the mosque, various multi-purpose halls, library and exhibition. You will be given an information pack on various aspects of Islam and the mosque.
The site is located next to Morden South Station and 5-10 minutes walk from Morden Underground Station. Buses numbers 80, 93 and 154 stop outside the mosque. Parking is available on site.
If you have any queries please do not hesitate to email us at seminars@ahmadiyya.org.uk.
School Visits
The mosque welcomes school visits to tour the mosque and the site. This also includes a talk and questions and answers on the basic teachings of Islam and the purposes of a mosque. Refreshments can also be provided.
Contact
For each of these events you can contact us via phone or email:
Tel:
020 8687 7812
Email: events@baitulfutuh.org
HOUSE OF VICTORIES
By the Grace of Allah the Baitul Futuh mosque complex has been completed through voluntary donations of individual members of the Ahmadiyya Muslim Community.
The mosque complex provides the Ahmadiyya Muslim Community with a central focal point for meetings, social and religious events on a national scale that was no longer possible in the much smaller London mosque. The Ahmadiyya Muslim Community acquired the site in 1996 which was previously “Express Dairies”, and the late Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, the fourth Khalifa laid the foundation stone on 19th October 1999.
The first mosque built by the Ahmadiyya Muslim Community in England was the Fazal Mosque situated in Southfields, South West London. The Fazal mosque which is commonly known as the London Mosque was built by the funds provided by the ladies section of the Ahmadiyya Muslim Community in 1924.
Senin, 13 April 2009
Ahmadiyya Muslims in Leamington "happy" in their new mosque
Published Date: 08 April 2009A small community of Ahmadiyya Muslims in Leamington have enjoyed the first six months since their new mosque opened.
Some 80 people worship at the £250,000 Baitul Ehsan Centre, opened by the Ahmadiyya Muslim Association, at the former James West Centre in Adelaide Road in November.
The association was formerly based in Lantern Corner before it rented rooms at Bath Place Community Venture and Oddfellows Hall in Warwick.
Warwick and Leamington assocation president Mohammad Salim said: "We are really pleased we have our own place now and a lot of people have shown an interest in the building.
"Not only is it a base for our community but it has helped us contribute to Leamington's community as a whole."
Neighbours and dignitaries were invited to the mosque's opening last year.
It is the first building of its type in Leamington.
Youngsters come to play and eat and several functions have taken place there.
Schools have shown an interest in going to look round and members of the Women's Institute have visited and invited women from the mosque to attend its events.
Mr Salim said the mosque was enjoying a good relationship with its neighbours, which include St Patrick's Irish Club and the Royal Naval Association.
He added: "People are happy and we are a peaceful neighbour - our motto is love for all and hate to none.
"We intend to keep it that way."
The Ahmadiyya Muslim community has branches in more than 189 countries and its worldwide membership exceeds tens of millions.
Established in 1889 in Punjab, India, its stated aim is to rejuvenate Islamic moral and spiritual values and claims there have been prophets since Mohammed - beliefs which contrast with mainstream Islam.
The association built its first UK mosque in Wandsworth, London, in 1924.
Ahmadiyya is said to advocate peace, tolerance, love and understanding among followers of different faiths and to strongly reject violence and terrorism.
An invitation only conference on the global financial crisis will take place at the mosque on April 18.
Prof Andrew Oswald from Warwick University will give a talk on the causes of the situation and a guest speaker will talk about the Islamic economic system.
Sabtu, 28 Februari 2009
Imam Jemaat Muslim Ahmadiyah Menyampaikan Pidato Bersejarah Di depan Parlemen inggris

Perayaan se-abad Khilafat Ahmadiyah berlanjut ketika anggota-anggota Parlemen melaksanakan acara peringatan di Westminster
Dalam suatu peristiwa bersejarah di Parlemen Inggris, Pemimpin tertinggi Jamaat Muslim Ahmadiyah, Hdh. Mirza Masroor Ahmad aba telah diundang untuk menyampakan pidato kepada sejumlah pejabat-pejabat senior pemerintah, anggota senior Parlemen dan para Duta Besar ketika anggota Parlemen (MP) Justine Greening mengadakan resepsi untuk merayakan se-abad Khilafat Ahmadiyah, yang merupakan system kepemimpinan kerohanian yang menyatukan seluruh orang-orang ahmadi di dunia.
Acara ini dihadiri oleh lebih dari 30 anggota Parlemen termasuk YM Hon Hazel Blears, Menteri Komunikasi dan Pemerintahan dalam Negeri, YM Dominic Grieve (MP), Simon Hughes (MP), Ketua Partai Liberal-Demokrat, Gillian Merron (MP), Menteri Luar Negeri, dan Lord Eric Avebury yang menyampaikan rasa terima kasihnya. Pertemuan ini disponsori oleh Justine Greening, yang di lingkungannya lah masjid pertama Ahmadiyah “Fazl Mosque” didirikan.
Dalam sambutan selamat datangnya Justine Greening menceritakan bagaimana Fazl Mosque telah memegang peran penting dan vital dalam kehidupan masyarakat setempat sejak dibangunnya pada tahun 1924. Beliau lebih lanjut menegaskan bahwa benar-benar merupakan sebuah keberuntungan baginya bahwa pusat Jemaat berada di wilayahnya. Komentar-komentar selanjutnya di sampaikan oleh Gillian Merron (MP), yang baru saja diangkat sebagai Menlu. Beliau mengatakan bahwa merupakan suatu kehormatan besar baginya dapat berjumpa dengan Pemimpin tertinggi Jemaat dan dapat ikut memperingati se-abad Khilafat Ahmadiyah . Beliau mengemukakan bahwa aktifitas Jemaat sangat berarti , karena telah membela golongan – golongan yang tersisihkan atau diperlakukan secara tidak adil. Mengomentari masih berlanjutnya tindakan penganiayaan kepada orang – orang Ahmadi diberbagai Negara , secara khusus beliau menyebutkan Pakistan dan Indonesia dimana situasi kelihatannya makin memburuk. Beliau mengatakan bahwa Departemen Luar Negeri telah bertekad untuk memperjuangkan terwujudnya jaminan HAM di setiap Negara.
Hazrat Mirza Masroor Ahmad Pimpinan tertinggi Jemaat Muslim Ahmadiyah telah memakai pidato beliau untuk mengemukakan masalah – masalah kontemporer yang telah mempengaruhi kedamaian masyarakat baik di Inggris maupun didunia pada umumnya. Beliau juga telah mengemukakan peran Jemaan Muslim Ahmadiyah yang beliau sebut sebagai acuan dan perwakilan Islam sebenarnya. Beliau katakana bahwa seluruh orang Ahmadi yang ada di Inggris setia kepada Negeri ini karena demikianlah ajaran dari Pendiri Islam Nabi Muhammad Rasulullah S A W.
HUzur memulai pidato beliau dengan mengemukakan masalah perselisihan besar yang telah memecah belah dunia saat ini . Perpecahan sedang berkecamuk diberbagai belahan bumi . Beliau mengkhawatirkan akan timbulny masalah- masalah yang lebih besar. Beliau bersabda : “Merupakan kekhawatiran saya bahwa bila memperhatikan perkenbangan saat ini , maka dinamika politik dan ekonomi dari negara – negara di dunia dapat menyulut perang dunia….Oleh karena itu adalah ,merupakan kewajiban dari negara – negara Superpower untuk duduk bersama dan mencarikan pemecahannya , guna menyelamatkan kemanusiaan dari jurang kehancuran. “
Beliau mengatakan bahwa satu – satunya jalan untuk menghindari permusuhan – permusuhan dan perdebatan – perdebatan lebih lanjut , ialah agar setiap Pemerintah berlaku adil dan jujur kepada rakyatnya sendiri dan dalam bekerjasama dengan negara – negara lain. Beliau menyampaikan ucapan selamat kepada Pemerintah Inggris yang telah menunjukan kualitas ketulusan dan kejujuran dalam sejarahnya masa kini. Beliau mengemukakan apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Inggris menjelang terpecahnya India sebagai contoh dari ketulusan dan kejujuran tersebut. Hanya dengan mewujudkan sikap yang demikian itu di seluruh dunia maka kehancuran dapat dihindari.
Menyinggung masalah terorisme beliau bersabda bahwa tindakan teror atau pengrusakan apapun tidak dibenarkan dalam Islam, oleh sebab itu mereka yang membenarkan tindakan – tindakannya yang mengerikan atas nama Islam telah mengakibatkan dunia tidak lagi percaya dan bahkan membenci Islam. Sebagai akibat dari kebencian ini kelompok – kelompok non- Muslim tertentu atau perorangan – perorangan telah melakukan sendiri serangan terhadap Islam dengan menghina Rasulullah SAW dan Kitab suci Al – Qur’an . Beliau menegaskan bahwa tindakan – tindakan yang demikian itu adalah salah dan bahwa saling menghargai antar agama – agama dan kepercayaan sangat diperlukan untuk bangkitnya kedamaian yang sejati.
Huzur kemudian berbicara mengenai kriminalitas dalam masyarakat . Beliau bersabda bahwa ajaran Islam yang sejati ialah agar selalu berusaha untuk memperbaiki mereka yang bersalah . Balasan dan hukuman setimpal jangan pernah dimasukan dalam rumusan hukuman bagi pelaku kriminal dan tawanan perang. Kriminalitas juga harus diberantas dari akarnya , yang telah menyebabkan tumbuhnya pelanggaran – pelanggaran dalam masyarakat . Oleh sebab itu , setiap negara harus bebas untuk membangun dan memanfaatkan segala sumber alam yang dimilikinya, tanpa adanya rasa takut kepada negara – negara yang lebih kuat yang akan mengeksploitasi mereka, hal demikian pula berlaku untuk setiap pribadi. Inilah cara yang harus dijalani. Selanjutnya beliau bersabda : “ Negara – negara yang telah dikaruniai berbagai barang tambang harus diberikan kebebasan untuk mengembangkan dan memperdagangkannya dengan harga wajar dan bebas, dan negara yang satu harus mendapat manfaat dari negara yang lainnya. Beginilah cara yang benar, cara yang diridhoi oleh Allah Ta’ala”.
Akhirnya Huzur berbicara tentang krisis ekonomi yang terjadi saat ini dan telah menimpa seluruh dunia. Beliau bersabda “kemelut hutang” hendaknya dipakai sebagai peringatan , dimana Kapitalisme barat yang didasarkan kepada system bunga sama sekali tidak cocok untuk masyarakat yang adil dan tulus. Beliau bersabda , walaupun system bunga dapat meningkatkan modal pribadi, tetapi dalam jangka panjang keadaannya tidak demikian .
Mengikuti pidato utama yang disampaikan Huzur , beberapa anggota Parlemen juga tampil ke podium . Hazel Blears (MP) menyatakan kekagumannya yang amat sangat atas pidato Huzur, dan beliau menganggap sangat tepat dan menantang. Beliau mengatakan bahwa pidato yang baru saja disampaikan itu merupakan pidato yang jarang disampaikan oleh politikus, karena begitu meyakinkan dan jelas. Motto Jemaat yang berbunyi Love for All , Hatred for None begitu penting dan sederhananya dan merupakan pesan yang membawa kepada kesatuan bukan prpecahan. Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa Perdana Menteri YM Gordon Brown secara pribadi telah mengutusnya untuk menghadiri pertemuan ini dan menyampaikan ucapan selamat kepada Huzur.
Dominic Gireve (AP) secara teratur hadir pada acara – acara yang diadakan oleh Jemaat, mengatakan bahwa beliau merasa bahagia karena pada akhirnya dapat pula mengundang Jemaat. BEliau memuji Jemaat atas partisipasinya yang amat bagus dalam segala aspek kehidupan yang menurut beliau hal tersebut disebabkan oleh kebijaksanaannya untuk berintegrasi dan bukannya memisahkan diri secara eksklusif. Beliau juga menyatakan bahwa beliau sangat bangga dengan kenyataan bahwa Pusat Jemaat Muslim Ahmadiyah ada di London . Simon Hughes (MP) mengatakan bahwa kesulitam yang dihadapi Jemaat di berbagai Negara menggambarkan bahwa kebebasan beragama belum tercapai dan bahwa Pemerintah harus berusaha untuk mewujudkan kemerdekaan tersebut di semua Negara.
Acara ini ditutup dengan ucapan terima kasih yang disampaikan oleh Lord Eric Avebury yang mengungkapkan betapa pidato yang disampaikan oleh Huzur itu telah meminta perhatiaan agar kita semua menjalankannya. Dalam pidatonya , Yang Mulia ( Huzur ) telah mengemukakan masalah konflik dan pemecahannya . Lord Avebury lalu menyinggung masalah penganiayaan terhadap orang – orang Ahmadi yang masih terus berlanjut di Pakistan dan beliau berkata Organisasi seperti Khatame – Nubuwat membangkitkan kebencian terhadap Ahmadiyah sedemikian rupa yang tidak dapat dimengerti oleh orang-orang di Inggris ini. Beliau akhirnya menyampaikan rasa terima kasih kepada Huzur atas kata-kata bijaksana dan kebijaksanaan beliau.
Untuk mengakhiri acara ini, Huzur telah dibawa tour berkeliling Gedung Parlemen dan mengadakan pertemuan pribadi dengan Nick Clegg (MP) yang merupakan pimpinan Partai Liberal Demokrat dan Lord Bishop Nazir Ali.
Dalam suatu peristiwa bersejarah di Parlemen Inggris, Pemimpin tertinggi Jamaat Muslim Ahmadiyah, Hdh. Mirza Masroor Ahmad aba telah diundang untuk menyampakan pidato kepada sejumlah pejabat-pejabat senior pemerintah, anggota senior Parlemen dan para Duta Besar ketika anggota Parlemen (MP) Justine Greening mengadakan resepsi untuk merayakan se-abad Khilafat Ahmadiyah, yang merupakan system kepemimpinan kerohanian yang menyatukan seluruh orang-orang ahmadi di dunia.
Acara ini dihadiri oleh lebih dari 30 anggota Parlemen termasuk YM Hon Hazel Blears, Menteri Komunikasi dan Pemerintahan dalam Negeri, YM Dominic Grieve (MP), Simon Hughes (MP), Ketua Partai Liberal-Demokrat, Gillian Merron (MP), Menteri Luar Negeri, dan Lord Eric Avebury yang menyampaikan rasa terima kasihnya. Pertemuan ini disponsori oleh Justine Greening, yang di lingkungannya lah masjid pertama Ahmadiyah “Fazl Mosque” didirikan.
Dalam sambutan selamat datangnya Justine Greening menceritakan bagaimana Fazl Mosque telah memegang peran penting dan vital dalam kehidupan masyarakat setempat sejak dibangunnya pada tahun 1924. Beliau lebih lanjut menegaskan bahwa benar-benar merupakan sebuah keberuntungan baginya bahwa pusat Jemaat berada di wilayahnya. Komentar-komentar selanjutnya di sampaikan oleh Gillian Merron (MP), yang baru saja diangkat sebagai Menlu. Beliau mengatakan bahwa merupakan suatu kehormatan besar baginya dapat berjumpa dengan Pemimpin tertinggi Jemaat dan dapat ikut memperingati se-abad Khilafat Ahmadiyah . Beliau mengemukakan bahwa aktifitas Jemaat sangat berarti , karena telah membela golongan – golongan yang tersisihkan atau diperlakukan secara tidak adil. Mengomentari masih berlanjutnya tindakan penganiayaan kepada orang – orang Ahmadi diberbagai Negara , secara khusus beliau menyebutkan Pakistan dan Indonesia dimana situasi kelihatannya makin memburuk. Beliau mengatakan bahwa Departemen Luar Negeri telah bertekad untuk memperjuangkan terwujudnya jaminan HAM di setiap Negara.
Hazrat Mirza Masroor Ahmad Pimpinan tertinggi Jemaat Muslim Ahmadiyah telah memakai pidato beliau untuk mengemukakan masalah – masalah kontemporer yang telah mempengaruhi kedamaian masyarakat baik di Inggris maupun didunia pada umumnya. Beliau juga telah mengemukakan peran Jemaan Muslim Ahmadiyah yang beliau sebut sebagai acuan dan perwakilan Islam sebenarnya. Beliau katakana bahwa seluruh orang Ahmadi yang ada di Inggris setia kepada Negeri ini karena demikianlah ajaran dari Pendiri Islam Nabi Muhammad Rasulullah S A W.
HUzur memulai pidato beliau dengan mengemukakan masalah perselisihan besar yang telah memecah belah dunia saat ini . Perpecahan sedang berkecamuk diberbagai belahan bumi . Beliau mengkhawatirkan akan timbulny masalah- masalah yang lebih besar. Beliau bersabda : “Merupakan kekhawatiran saya bahwa bila memperhatikan perkenbangan saat ini , maka dinamika politik dan ekonomi dari negara – negara di dunia dapat menyulut perang dunia….Oleh karena itu adalah ,merupakan kewajiban dari negara – negara Superpower untuk duduk bersama dan mencarikan pemecahannya , guna menyelamatkan kemanusiaan dari jurang kehancuran. “
Beliau mengatakan bahwa satu – satunya jalan untuk menghindari permusuhan – permusuhan dan perdebatan – perdebatan lebih lanjut , ialah agar setiap Pemerintah berlaku adil dan jujur kepada rakyatnya sendiri dan dalam bekerjasama dengan negara – negara lain. Beliau menyampaikan ucapan selamat kepada Pemerintah Inggris yang telah menunjukan kualitas ketulusan dan kejujuran dalam sejarahnya masa kini. Beliau mengemukakan apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Inggris menjelang terpecahnya India sebagai contoh dari ketulusan dan kejujuran tersebut. Hanya dengan mewujudkan sikap yang demikian itu di seluruh dunia maka kehancuran dapat dihindari.
Menyinggung masalah terorisme beliau bersabda bahwa tindakan teror atau pengrusakan apapun tidak dibenarkan dalam Islam, oleh sebab itu mereka yang membenarkan tindakan – tindakannya yang mengerikan atas nama Islam telah mengakibatkan dunia tidak lagi percaya dan bahkan membenci Islam. Sebagai akibat dari kebencian ini kelompok – kelompok non- Muslim tertentu atau perorangan – perorangan telah melakukan sendiri serangan terhadap Islam dengan menghina Rasulullah SAW dan Kitab suci Al – Qur’an . Beliau menegaskan bahwa tindakan – tindakan yang demikian itu adalah salah dan bahwa saling menghargai antar agama – agama dan kepercayaan sangat diperlukan untuk bangkitnya kedamaian yang sejati.
Huzur kemudian berbicara mengenai kriminalitas dalam masyarakat . Beliau bersabda bahwa ajaran Islam yang sejati ialah agar selalu berusaha untuk memperbaiki mereka yang bersalah . Balasan dan hukuman setimpal jangan pernah dimasukan dalam rumusan hukuman bagi pelaku kriminal dan tawanan perang. Kriminalitas juga harus diberantas dari akarnya , yang telah menyebabkan tumbuhnya pelanggaran – pelanggaran dalam masyarakat . Oleh sebab itu , setiap negara harus bebas untuk membangun dan memanfaatkan segala sumber alam yang dimilikinya, tanpa adanya rasa takut kepada negara – negara yang lebih kuat yang akan mengeksploitasi mereka, hal demikian pula berlaku untuk setiap pribadi. Inilah cara yang harus dijalani. Selanjutnya beliau bersabda : “ Negara – negara yang telah dikaruniai berbagai barang tambang harus diberikan kebebasan untuk mengembangkan dan memperdagangkannya dengan harga wajar dan bebas, dan negara yang satu harus mendapat manfaat dari negara yang lainnya. Beginilah cara yang benar, cara yang diridhoi oleh Allah Ta’ala”.
Akhirnya Huzur berbicara tentang krisis ekonomi yang terjadi saat ini dan telah menimpa seluruh dunia. Beliau bersabda “kemelut hutang” hendaknya dipakai sebagai peringatan , dimana Kapitalisme barat yang didasarkan kepada system bunga sama sekali tidak cocok untuk masyarakat yang adil dan tulus. Beliau bersabda , walaupun system bunga dapat meningkatkan modal pribadi, tetapi dalam jangka panjang keadaannya tidak demikian .
Mengikuti pidato utama yang disampaikan Huzur , beberapa anggota Parlemen juga tampil ke podium . Hazel Blears (MP) menyatakan kekagumannya yang amat sangat atas pidato Huzur, dan beliau menganggap sangat tepat dan menantang. Beliau mengatakan bahwa pidato yang baru saja disampaikan itu merupakan pidato yang jarang disampaikan oleh politikus, karena begitu meyakinkan dan jelas. Motto Jemaat yang berbunyi Love for All , Hatred for None begitu penting dan sederhananya dan merupakan pesan yang membawa kepada kesatuan bukan prpecahan. Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa Perdana Menteri YM Gordon Brown secara pribadi telah mengutusnya untuk menghadiri pertemuan ini dan menyampaikan ucapan selamat kepada Huzur.
Dominic Gireve (AP) secara teratur hadir pada acara – acara yang diadakan oleh Jemaat, mengatakan bahwa beliau merasa bahagia karena pada akhirnya dapat pula mengundang Jemaat. BEliau memuji Jemaat atas partisipasinya yang amat bagus dalam segala aspek kehidupan yang menurut beliau hal tersebut disebabkan oleh kebijaksanaannya untuk berintegrasi dan bukannya memisahkan diri secara eksklusif. Beliau juga menyatakan bahwa beliau sangat bangga dengan kenyataan bahwa Pusat Jemaat Muslim Ahmadiyah ada di London . Simon Hughes (MP) mengatakan bahwa kesulitam yang dihadapi Jemaat di berbagai Negara menggambarkan bahwa kebebasan beragama belum tercapai dan bahwa Pemerintah harus berusaha untuk mewujudkan kemerdekaan tersebut di semua Negara.
Acara ini ditutup dengan ucapan terima kasih yang disampaikan oleh Lord Eric Avebury yang mengungkapkan betapa pidato yang disampaikan oleh Huzur itu telah meminta perhatiaan agar kita semua menjalankannya. Dalam pidatonya , Yang Mulia ( Huzur ) telah mengemukakan masalah konflik dan pemecahannya . Lord Avebury lalu menyinggung masalah penganiayaan terhadap orang – orang Ahmadi yang masih terus berlanjut di Pakistan dan beliau berkata Organisasi seperti Khatame – Nubuwat membangkitkan kebencian terhadap Ahmadiyah sedemikian rupa yang tidak dapat dimengerti oleh orang-orang di Inggris ini. Beliau akhirnya menyampaikan rasa terima kasih kepada Huzur atas kata-kata bijaksana dan kebijaksanaan beliau.
Untuk mengakhiri acara ini, Huzur telah dibawa tour berkeliling Gedung Parlemen dan mengadakan pertemuan pribadi dengan Nick Clegg (MP) yang merupakan pimpinan Partai Liberal Demokrat dan Lord Bishop Nazir Ali.
Langganan:
Postingan (Atom)