Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE
Tampilkan postingan dengan label Terjemahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terjemahan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 November 2010

Keteguhan Jiwa Wakaf Huzur Tercinta


Beberapa contoh keteguhan jiwa wakaf yang diambil dari riwayat hidup Hazrat Khalifatul Masih Al Khamis, Huzur bersabda,:

1. Ketika saya (Hazrat Khalifatul Masih Al Khamis) masih kecil, saya pernah diajak oleh kakek saya (Hazrat Mirza Syarif Ahmad) untuk mulakat dengan Hazrat Khalifatul Masih Tsani ra. Saat itu saya masih berumur 9,10 tahun. Saat itu Hazrat Khalifatul Masih Tsani ra sedang sakit dan terbaring di ranjang. Disana telah disediakan kursi untuk kakek saya (Hazrat Mirza Syarif Ahmad), tapi beliau berbincang-bincang Hazrat Khalifatul Masih Tsani ra sambil duduk dilantai. Beliau memperlihatkan sikap santun dan rasa hormat kepada Hazrat Khalifatul Masih Tsani ra pada saat berbincang, lalu pamitan pulang. Hazrat Khalifatul Masih Al Khamis bersabda,” Dengan itu, kakek saya memberikan pelajaran kepada saya untuk bersikap santun didepan khalifah e waqt.

2. Ketika saya masih kecil, ayah saya selalu menekankan saya untuk melaksanakan shalat lima waktu. Beliau selalu membangunkan saya dari tidur untuk melaksanakan shalat shubuh. Apabila saya susah bangun, beliau memercikan air diwajah saya. Setelah shalat shubuh, ayah saya selalu menekankan kepada saya untuk berolahraga dan ayah saya sendiri pun berolah raga setelah shalat shubuh.

3. Didalam kehidupan sehari-hari orang tua kami selalu menerapkan kesdisiplinan. Begitu indahnya kedisiplinan yang diterapkan, sehingga Sampai umur 16,17 tahun, sama sekali anak-anak tidak diizinkan untuk keluar rumah setelah shalat maghrib. Kami tinggal dilingkungan rabwah, padahal disekitar rumah kami tinggal kerabat dekat, tapi meskipun demikian orang tua kami tidak mengizinkan kami untuk keluar rumah setelah shalat maghrib. Dan ketika kami suduh bertambah dewasa, ayah tidak mengizinkan kami untuk keluar rumah setelah shalat isya. Huzur Bersabda,” Anak yang selalu pergi keluyuran setelah shalat isya, laziman dia akan rusak.

4. Ketika Mia Masroor Ahmad sedang menempuh pendidikan MSc di bidang agriculture (pertanian), menurut informasi disatu departemen dalam sebuah universitas bisa diperoleh madu asli. Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra meminta Mia Masroor untuk membelikan satu botol madu asli. Pada saat Mia Masroor Ahmad beranjak pergi, Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra memberikan uangnya. Mia Masroor :,” Huzur! Saya akan membeli madu itu dari uang saya pribadi. Huzur bersabda,”Setiap saya meminta orang lain untuk membeli sesuatu saya selalu memberikan uangnya terlebih dahulu. Akhirnya ada seorang ahmadi yang akan membelikan madu tersebut untuk Mia Masroor. Ketika sang ahmadi itu tahu bahwa Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra lah yang memesan madu itu, maka dia membelikan madu itu dengan uang pribadinya. Ketika Mia Masroor Ahmad kembali untuk menyerahkan madu dan mengembalikan kembali uang yang telah diberikan oleh Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra, maka Huzur bersabda,” Apabila saya sudah memberikan uang kepada seseorang, saya tidak akan mengambilnya lagi, apakah orang itu menggunakan uang yang saya berikan tadi untuk membeli barang tersebut atau ada orang lain yang membayarkan dengan uang pribadinya.

5. Setelah Mia Masroor menyelesaikan gelar MSc, Belie menyampaikan permohonan wakafnya kepada Kantor Tahrik Jadid, tapi Kantor Tahrik Jadid menolak permohonan wakaf beliau karena melihat basic pendidikan beliau MSc pertanian, mereka memberikan jawaban,” Saat ini kantor kami tidak memerlukan waqif bidang pertanian, begitu juga Rabwah dan di sekolah-sekolah di Ghana pun tidak diajarkan subject mengenai pertanian. Tapi memang Allah Ta’ala lah yang akan menerima wakaf beliau. Begitu kuatnya keinginan Mia Masroor untuk mewakafkan diri, Beliau terus berdoa dan akhirnya belie mengirimkan permohonan wakafnya kepada Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra, lalu Huzur pun meneruskan lagi permohonan Mia Masroor kepada Tahrik Jadid, lantas jawaban itu pulalah yang diterima oleh Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra yakni kami tidak bisa menerima waqaf pemuda ini, sampaikanlah kepadanya untuk mencari pekerjaan lain. Ketika jawaban ini sampai kepada Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra, beliau menulis catatan,” Kalau kalian tidak memerlukan pemuda ini, saya yang memerlukannya, lalu Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra menerima waqaf dan mengutus Mia Masroor ke Afrika sebagai guru.

6. Sejak kecil saya sangat dekat dengan Hazrat Khalifatul Masih Ar Rabi ra sebagai sahabat yang saling mencintai. Begitu dekatnya saya dengan beliau, sehingga Huzur selalu melimpahkan tugas-tugas kepada saya, supaya saya yang mengerjakan tugas-tugas itu. Kapanpun saya memberikan saran kepada Beliau, misalnya dalam suatu meeting, meskipun ada orang lain yang memberikan pendapat yang bertentangan dengan saran saya, Beliau pasti menerima saran saya.

7. Pada saat saya akan dikirim ke Ghana, fikiran manusiawi saya merasa tidak suka apabila saya ditugaskan ke suatu tempat yang fasilitasnya tidak memadai, tidak ada air, listrik. Ketika beliau sampai di Ghana, beliau baru mengetahui bahwa keadaannya seperti apa yang dikhawatirkan (tidak memadainya fasilitas, sebelumnya beliau tidak tahu kalau keadaannya seperti itu. Beliau ditugaskan oleh Hazrat Khalifatul Masih Ar Rabi ra, ke tempat yang jauhnya sekitar 70 mil dari tempat saya tinggal, saat itu musim panas, saya harus menjalankan traktor sendiri, di tempat itu jalannya masih tanah yang berdebu, seharian sibuk, malam tidak bisa kembali pulang ke rumah, saya berfikir supaya saya tinggal 3 hari sekaligus, sampai pekerjaan selesai. Makanan di daerah itu tidak bisa dimakan, rasanya…, jika dimakan pun bisa menyebabkan sakit, air juga kotor sehingga tidak bisa diminum. Karena saya ditugaskan oleh Khalifah e waqt, saya harus melaksanakannya. Untuk makan, saya membawa satu termos cae dan biscuit, selama 3 hari, itulah yang saya makan dan minum. (Kita bisa bayangkan sebesar apa termos cae). Malam hari pun saya harus berkali kali bangun karena lingkungannya hutan, saya khawatir ada ular dan kalajengking. Bagaimana Mia masroor mengemban tugas wakaf yang diberikan kepada beliau.

8. Bagi seorang wakaf waktu untuk berkhidmat bukanlah dari jam 8 sampai jam 4 , melainkan 24 jam dalam sehari. Jadwal kegiatan Huzur setiap harinya sbb, Huzur ABA bersabda: "Pada waktu shubuh saya bangun untuk tahajjud, saya tidak akan beritahukan pukul berapa saya bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud, yang pasti saya bangun cepat untuk shalat tahajjud, setelah shalat tahajjud saya menilawatkan Al Quran, lalu beranjak untuk shalat fajar, lalu olahraga jalan pagi, setelah itu kembali kerumah untuk mandi, lalu sarapan, lalu saya mengambil Al Quran dan merenungkan 2,3 ayat dengan seksama, kemudian selama 4, 5 menit saya beristirahat, lalu pergi ke kantor, dari pagi sampai tiba waktu shalat zuhur, Huzur mengerjakan pekerjaan kantor, meeting, memberikan instruksi, petunjuk, intinya semua pekerjaan kantor, kemudian ke mesjid untuk mengimami shalat zuhur, setelah shalat zuhur saya pulang ke rumah, (rumah beliau tepat berada diatas kantor), kemudian makan siang, setelah itu untuk 25, 30 menit saya istirahat, lalu ke kantor lagi, lalu shalat ashar, kemudian ke kantor, lalu shalat magrib, beberapa saat sebelum magrib saya ke rumah untuk minum cae, lalu pergi ke masjid untuk shalat magrib, saya melaksanakan shalat sunat di kantor, lalu ke kantor untuk membaca surat-surat yang datang, surat jemaat, surat kantor dan pribadi, jika ada yang harus diberikan petunjuk. setelah itu 1 jam untuk mulaqat, setelah itu saya pulang untuk makan malam, lalu shalat isya, setelah shalat saya pulang kerumah untuk beberapa menit, kalau saja ada kerabat yang datang ke rumah untuk berjumpa dengan saya, maka saya menemui mereka untuk 5, 10 menit, lalu saya kembali ke kantor sampai pukul 11, setelah itu membaca surat kabar, bulletin jemaat, papers lain-lain atau kitab-kitab yang lain, lalu saya tidur, dan shubuh seperti biasa bangun untuk tahajjud.

Semoga kita diberikan taufik untuk bisa menjadikan Khalifah waqt sebagi model dalam kehidupan kita, mendengar nasihat-nasihat beliau dengan penuh kecintaan, dan berupaya untuk memiliki sikap-sikap itu didalam diri kita dan putra putri kita, sehingga Allah Ta’ala ridlo kepada kita. Amin

Read More......

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 10 Maret 2009

Kesabaran Adalah Pada Kesedihan Yang Pertama Kali


Hazrat Khalifatul Masih Ats Tsani bersabda :”Karena itu, ujian selalu datang supaya akhlak manusia dapat di zahirkan, tapi akhlak Rasulullah SAW sudah zahir dari sejak semula, Pada saat sarroo’a (Kesulitan) juga Beliau SAW telah meraih keridhoan Allah Ta’ala, dan telah berusaha mencari keridloan Allah Ta’ala dan dalam keadaan Dlorroo’a juga. Apabila Beliau SAW mendapatkan harta, maka Beliau SAW nafkahkan semuanya untuk manfaat umat manusia, sedangkan untuk diri Beliau SAW sendiri, Beliau SAW tidak mengambil manfaat dari harta itu. Sebaliknya jika datang musibah, beliau SAW tabah menghadapi segala jenis cobaan, bahkan beliau SAW senantiasa menghadapinya dengan penuh kesabaran. Suatu ketika Rasulullah SAW lewat di dekat pekuburan, Beliau melihat seorang perempuan, yang sedang berdiri menangis di dekat kuburan, Rasulullah SAW bertanya:” Bibi sabarlah!

Dia menjawab, kalaulah anak kamu sendiri yang mati, saya ingin lihat bagaimana kamu bisa bersabar. karena itu kamu menasihati saya supaya bersabar, karena yang mati ini adalah anak saya, coba (rasakan) kalau itu anak kamu. Rasulullah Saw menjawab:” Hai perempuan, aku sudah kehilangan 7 orang anak, tapi aku selalu bersabar menghadapi kematian setiap anakku. Setelah mengatakan ini beliau pergi, setelah itu ada seseorang yang mengatakan pada wanita tadi:”Kurang ajar kamu! Kamu tahu siapa yang berkata-kata kepada kamu tadi? Dia menjawab:” saya tidak tahu siapa dia, orang itu menjawab :” Beliau adalah Rasulullah SAW. Setelah mendengar hal ini, wanita tadi pergi ke rumah Beliau SAW dan berkata:” Ya Rasulullah SAW , (sekarang) aku telah bersabar. Beliau menjawab: Assobru indassodmatil uula. (Seharusnya) kesabaran itu pada keadaan yang pertama. Memang setelah menangis sepuasnya, timbul rasa sabar. Jadi Rasulullah SAW juga mengalami kondisi-kondisi yang demikian, yang dengan keadaan itu manusia menangis sedih, tapi dalam kondisi seperti itupun, beliau SAW tetap bersabar dan bersabda, “Kita ridho atas kehendak Allah ini.

Ketika menjelang kewafatan putra beliau Hazrat Ibrahim, pada saat itu Hazrat Rasulullah SAW berada disampingnya, setelah melihat ratapan dan rintihan putranya, keluar air mata Rasulullah SAW. Seseorang bertanya:” Ya Rasulullah SAW! Tuan juga menangis. Beliau SAW menjawab.” mengeluarkan airmata adalah hal lain. meskipun demikian kami tidak keberatan atas kehendak Allah Ta’ala ini, kami menganggap apa yang dilakukanNya ( Allah Ta’ala ) adalah benar. Hazrat Abdul Qadir Jailani bersabda :” Saya tidak akan makan sebelum Allah SWT menyuruh saya dengan mengatakan,” Hai abdul qadir! demi zat ku makanlah.! Dan juga saya tidak akan memakai pakaian sebelum Allah Ta’ala mengatakan kepada saya,” Hai Abdul Qadir! demi zatku, pakailah pakaian itu.
(Tafsir Kabir Jilid 8 hal 562-563)
Penerjemah :Mahmud Ahmad Wardi

Read More......

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, 07 Maret 2009

Mesjid Selain untuk Ibadah?


Hazrat Khalifatul Masih Ats Tsani ra bersabda:
Seorang musafir bisa mengambil manfaat dari mesjid dalam corak, kalau dia tidak mendapatkan tempat beristirahat, dia bisa tinggal untuk beberapa hari sehingga terselamatkan dari kesulitan tempat tinggal.
Untuk penduduk maqami (tempatan) bisa mengambil manfaat dari mesjid dalam corak bahwa mesjid adalah tempat yang terbebas dari keributan dan kegaduhan, dia bisa duduk dan berdoa dengan tentram didalamnya, juga bisa bermunajat kepada Tuhannya.

Bagi orang-orang yang mewakafkan diri untuk agama Allah, tempat tinggal mereka yang sebenarnya adalah mesjid, karena mesjid adalah tempat berkumpulnya orang-orang mukmin, tempat berdoa dan tempat untuk berzikir Ilahi. Tidak ada manusia yang memiliki kecintaan sejati dan hubungan yang erat yang bisa terpisah dari maqam ini (mesjid), tapi hendaknya diperhatikan bahwa pengganti dari zikir Ilahi adalah (dengan mengerjakan-pent) pekerjaan-pekerjaan yang bisa memberikan manfaat bagi kaum, apakah itu tentang qodo (pengadilan) atau perkelahian, atau kerusuhan (fasadat) atau urusan ta’lim (pendidikan) atau dalam corak lain yang berhubungan dengan kemajuan atau kemunduran umat muslim.

Sebagaimana kalau diperhatikan pada zaman Rasulullah SAW, keputusan (peleraian) perkelahian pun dilakukan di mesjid, urusan qodo juga, ta’lim juga, dengan itu bisa difahami bahwa mesjid tidak hanya digunakan untuk untuk Allah-Allah.. saja, tapi untuk hal-hal lain juga yang berhubungan dengan kebutuhan umat bisa dilakukan di mesjid, karena dalam Islam, Zikir Ilahi tidak hanya melantunkan subhanallah-subhanallah saja, tapi kalau ada yang mengkhidmati janda, maka itupun adalah urusan agama, kalau ada yang memelihara anak yatim, maka itupun adalah urusan agama, kalau ada orang yangmengkhidmati kaum, itupun adalah urusan agama, kalau ada yang melerai perkelahian orang-orang dan mengadakan islah, itupun urusan agama.

Jadi seluruh kegiatan yang bermanfaat bagi kaum dan juga yang meninggikan akhlak dan kondisi duniawinya adalah termasuk kedalam zikir Ilahi dan itu diperbolehkan kalau dilakukan dimesjid. Pada zaman Rasulullah SAW kalau ada tamu yang datang, Beliau bertanya pada para sahabat di mesjid, ada tamu yang datang, diantara kalian siapa yang akan mengkhidmatinya? Sekarang, meskipun soal roti, tapi sebenarnya ini adalah urusan agama yang dengannya keperluan umat akan terpenuhi. Orang-orang telah keliru dengan membatasi makna urusan-urusan agama, padahal untuk itulah agama ada, supaya manusia bisa menciptakan hubungan dengan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala tidak akan bertemu dengan hambanya tanpa adanya suatu pengkhidmatan, tapi dia akan bertemu ketika kita sedang memelihara anak yatim, Dia akan bertemu ketika kita sedang mengkhidmati janda janda, dia akan bertemu ketika kita sedang bertabligh pada orang kafir, Dia bertemu ketika kita sedang menyelamatkan orang orang mukmin dari musibah, jadi kalaulah hal-hal ini dibindcangkan di mesjid, maka ini bukanlah urusan duniawi, tapi bagian dari agama. Ya, di mesjid dilarang untuk membicarakan hal hal yang berkenaan dengan hal-hal yang murni urusan-urusan pribadi, misalnya kalaulah kalian bertanya, bagaimana keputusannya tentang pernikahan anak perempauan kamu? atau dikatakan ada perkelahian tentang kemajuanku, officer tidak percaya, maka urusan-urusan yang seperti ini tidak boleh untuk di bincangkan di mesjid, kecuali imam, yang memang bertanggung jawab mengurusi masalah seluruh kaum, dan adalah haknya, kalau dia merasa perlu, bincangkanlah tentang perkara 2 itu kepada orang orang (di mesjid). Pada dasarnya membincangkan sesuatu yang berkenaan dengan urusan-urusan pribadi yang murni adalah dilarang. Misalnya, Rasulullah SAW bersabda: “Kalaulah ada seseorang yang kehilangan sesuatu, maka berkenaan dengan itu janganlah mengumumkan (berita kehilangan) di mesjid (Sahih Muslim Ma’a Surhah An Nawawi Jilid Awwal halaman 210 cetakan asbahaul mutabi’I ) Walhasil, Mesjid-mesjid hanya untuk zikir Ilahi, tapi zikir Ilahi termasuk juga hal-hal yang berhubungan dengan kemajuan dan peningkatan kaum, keilmuan, kenegaraan, dan musyawarah peleraian sengketa. tapi, semua hal hal yang berhubungan dengan perkelahian, kerusuhan, pelanggaran peraturan, meskipun kalian menamakannya dengan musyawarah, kebangsaan, keumatan, atau urusan agama, kalau hal-hal itu diperbincangkan dimesjid adalah tidak boleh. Begitu juga di mesjid-mesjid dilarang untuk berbincang-bincang berkenaan perkara-perkara pribadi, karena Islam menetapkan mesjid sebagai baitullah dan menetapkan mesjid adalah khusus untuk zikir ilahi.

(Tafsir Kabir jilid 6 hal 28-29)
Penerjemah :Mahmud Ahmad Wardi

Read More......

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 03 Maret 2009

Pengorbanan dan Idul Adha


Tapi Quran Karim memberitahukan bahwa Hazrat Ibrahim as telah melihat ru’ya sedang menyembelih puteranya sendiri yang dalam penggenapan (ru’ya itu), Beliau as pergi ke lembah Ghairi dzi zar’in ‘inda baitikal muharrom dan meninggalkan Hazrat Ismail as disana dan juga pada kenyataannya Beliau as tidak menyembelihnya dengan tangannya. Seolah-olah dalam peristiwa Ibrahim as bibel mempersembahkan pengorbanan manusia sebagai asalnya (hakikat) dan sebaliknya menetapkan pengorbanan hewan sebagai penggantinya. Tapi Islam hanya menetapkan pengorbanan hewan sebagai pengorbanan yang hakiki (sebenarnya) dan memberitahukan bahwa dalam setiap agama pengorbanan hewan dari Allah Ta’ala lah yang ditetapkan sebagai pengorbanan yang hakiki. Kebiasaan mengorbankan manusia yang timbul didalamnya adalah akibat dari bertentangan dengan kehendak Ilahi dan telah rusaknya agama.

Sekarang timbul pertanyaan, kalaulah kebiasaan mengorbankan manusia bertentangan dengan kehendak Ilahi, maka kenapa hal ini diperlihatkan didalam ru’ya nabi Ibrahim as, ketika Beliau as sedang menyembelih puteranya? Maka jawabannya adalah sebenarnya didalam ruya tersebut mengandung corak penta’biran, kemudian dizahirkan oleh peristiwa yang akan terjadi sesudahnya. Ta’birnya adalah bahwa suatu hari Hazrat Ibrahim as akan meninggalkan puteranya Ismail as di suatu tempat atas perintah Allah Ta’ala dalam kondisi dimana kalau dilihat pada kenyataannya (mengisyarahkan) pasti akan terjadi kematian. Tapi Allah Ta’ala akan menerima pengorbanan beliau itu dan akan menciptakan sarana untuk kehidupannya dan dengan perantaranya Allah Ta’ala juga ingin menjadikan tempat peribadahan kuno itu sebagai tempat beribadah yang terakhir di dunia ini. Supaya, Sebagaimana Allah Ta’ala merupakan awwal dan akhir, begitu jugalah Mekah dan Madinah menjadi rumah pertama dan terakhir.

Sebagaimana dalam agama Islam peringatan Idul Adha bukanlah sebagai pengganti pengorbanan seekor kambing yang telah disembelih oleh Hazrat Ibrahim as tapi untuk mengenang pengorbnan Hazrat Ismail as sendiri yang dilakukan untuk meramaikan penduduk Baitullah. Dan dalam hal ini apa lagi yang diragukan, bahwa (sikap) Hazrat Ibrahim as meninggalkan puteranya di lembah yang gersang sama saja dengan (sikap) menyembelih (puteranya) dengan tangannya sendiri, tapi kenyataannya (meninggalkan di lembah yang gersang) lebih (menyakitkan) dari itu, karena kalau disembelih, dalam satu menit saja nyawa akan melayang (tidak terasa). Dan seandainya tidak ada karunia Allah Ta’ala (ketika di lembah gersang), maka beliau (Hz Ismail as) akan meninggal secara perlahan-lahan (lebih menyakitkan).

Jadi ru’ya Hazrat Ibrahim as bukanlah untuk menjadikan kebiasaan berkorban manusia, tapi dengan itu Allah Ta’ala ingin memberikan pelajaran kepada umat manusia bahwa pengorbanan yang sebenarnya adalah supaya manusia menanggung kesulitan untuk memberikan manfaat bagi dunia. Pengorbanan yang bisa diterima dalam pandangan Nya adalah yang bisa memberikan kehidupan bagi umat manusia.
Dalam hal ini penting sekali untuk memperhatikan bahwa Allah Ta’ala berfirman Wa likulli ummatin ja’alna mansakan, (dalam ayat ini) dijelaskan mengenai hakikat pengorbanan dan falsafahnya secara halus, dengan berfirman,” Hanya pengorbanan semata, tidaklah berarti apa-apa, tapi yang bernilai dan berkedudukan pada pandangan Allah Ta’ala adalah semangat keikhlasan yang melatar belakangi pengorbanan itu. Seandainya ada orang yang bisa mempersembahkan kambing dengan kualitas yang tinggi untuk disembelih, tapi dia tidak memperdulikan keridloan dan kesenangan Allah Ta’ala, maka (nilai) pengorbanannya di hadapan Allah Ta’ala tidak sama kandungannya dengan daun kering pun. Ini adalah isyarah halus yang Allah Ta’ala gunakan dalam kata mansakan yang artinya dalam bahasa arab shir’atun nashki nafsun naski dan maudlo’un tudzbahu fiihi annasiikatu yakni mansakun juga berarti cara-cara berkorban, jiwa pengorbanan juga berarti tempat yang digunakan untuk berkurban. Lafaz nasiikah dalam bahasa arab digunakan untuk (menyatakan) pengorbanan berasal dari kata nasaka, arti dari nasaka lillahi adalah tatlowwa’a biqurbatin qa dzabaha bi wajhihi (Aqrab) artinya satu pekerjaan baik yang dikerjakan tanpa diperintah atau tanggung jawabnya tidak diserahkan kepada orang lain, seseorang yang mengerjakan (sesuatu) dengan penuh kerelaan dan keridloan, dan bekerja dengan niat supaya dia bisa meraih keridloan Allah Ta’ala. Seolah olah untuk nasiikah, syaratnya adalah jangan atas dasar paksaan (mengerjakannya), tapi atas dasar kecenderungan alami, kehendak, dan hasrat, lalu dengan ikhlas karena Allah. Begitu jugalah makna dari nasakan nauba ghosalahuu bil maai fatohharohu, dia mencuci pakaian dan mengeluarkan segala macam kekotoran darinya dengan air. Jadi dalam ayat ini, dengan menggunakan lafaz mansakan memberikan nasihat untuk mengambil bagian dalam berkorban dengan penuh kerelaan hati dan keridloan, janganlah kalian berkorban atas dasar paksaan orang lain, karena dipandangan Allah Ta’ala pengorbanan yang diterima adalah yang dilakukan dengan kerelaan hati. Yang kedua, Tidak hanya memperhatikan kerelaan hati saja yang penting bagi kalian, tapi langkah berikutnya adalah lakukanlah pengorbanan sembari memperhatikan kerelaan dan keridloan Allah Ta’ala. Dan yang ketiga, pada saat berkorban tiliklah pada setiap sudut hati, perhatikanlah, apakah didalamnya sudah terkontaminasi dengan kekotoran hasrat-hasrat duniawi? Karena kalau begitu, pengorbanan kalian tidak akan diterima disinggasana Allah Ta’ala. Ini adalah pelajaran yang sangat halus dan berharga yang Allah Ta’ala jelaskan dalam kata yang sekecil-kecilnya, yang dengan mengambil manfaat darinya, manusia bisa meraih hasil yang tinggi dalam pengorbanannya.
Dalam kalimat Wa bashshiril mukhbitiinalladzina idza dzukirolloohu wajilat quluubuhum wassoobiriina ‘ala maa asopbahum wal muqiimissolaati wa mimma rozaqnaahum yunfiquwn diberitahukan 4 tanda orang-orang yang merendahkan hati di hadapan Allah Ta’ala. Yang pertama, ketika disebut nama Allah Ta’ala, hati mereka bergetar. Yang kedua, ketika datang musibah dan kesulitan di jalan Allah Ta’ala, mereka tabah dan sabar menjalaninya. Yang ketiga, mereka melaksanakan shalat berjamaah .Keempat, Apapun yang mereka dapatkan dari Allah Ta’ala, satu bagiannya dia belanjakan dijalan Allah Ta’ala.
Yang dimaksud kalimat wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquwn (mereka membelanjakan dari apa-apa yang kami rezekikan kepada mereka) dalam ayat ini tidak hanya uang. Dengan hanya memberikan beberapa rupiah saja, lantas manusia bisa dianggap sebagai orang yang telah melaksanakan kewajibannya. Tapi maksud dari wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquwn adalah bahwa matanya, otaknya, telinganya, hidungnya, tangan dan kakinya dan tubuhnya pun termasuk didalamnya (rozaqnaahum), maksud dari kalimat wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquwn juga rumahnya, Gandum/beras yang dia gunakan, bahkan sayur lobak, wortel, dan gula yang ditanam oleh petani pun termasuk didalamnya. Tidak diragukan lagi bahwa memang seseorang yang membelanjakan uangnya, bisa ditetapkan sebagai orang yang memberikan pengorbanan harta. Tapi syariat tidak hanya memerintahkan untuk memberikan pengorbanan harta saja, bahkan syariat juga memerintahkan supaya apapun yang telah kami berikan kepadamu, belanjakanlah satu bagiannya dijalan Allah Ta’ala! Jadi kalaulah ada orang yang menyerahkan seluruh harta kekayaannya sabagai candah, tapi matanya tidak mengambil bagian dalam mengkhidmati hamba Allah Ta’ala, tangan dan kakinya tidak mengambil bagian dalam mengkhidmati hamba Allah, maka dia tidak bisa mengatakan bahwa dengan menyerahkan seluruh harta kekayaannya, berarti kami sudah melaksanakan kewajiban kami. hal ini bisa disebut sebagai mantik (ilmu dalam berbicara), tapi tidak bisa disebut dengan agama. Untuk memenuhi tuntutan agama, perlu untuk menggunakan seluruh anggota tubuh untuk mengkhidmati hamba Allah Ta’ala.
Terdapat didalam hadits-hadits, bahwa ketika seluruh umat manusia akan dipersembahkan dihadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat, maka Dia (Allah) akan mengatakan kepada sebagian orang,” Wahai hambaku! Saat itu aku kelaparan, engkau telah memberikan aku makan, saat itu aku lapar, engkau telah memberikan aku minum, saat itu aku tidak berpakaian, engkau telah memberikan aku pakaian, saat itu aku sakit, engkau telah menjengukku, karena itu masuklah, masuklah kedalam surgaku! Hamba tersebut akan berkata,” tobah-tobah apalah dayaku sehingga aku bisa memberi engkau (Tuhan) makan, memberikan engkau minum, memberikan engkau pakaian, menjenguk engkau ketika sakit. Engkau terbebas dari semua (penderitaan) itu, Allah Ta’ala akan menjawab,” Tapi ketika hambaku yang hina dan kelaparan datang kepadamu, engkau memberinya makan, maka seolah-olah engkau telah memberiku makan, begitu jugalah ketika hambaku yang hina dan lapar datang kepadamu, lalu engkau memberinya minum, maka seolah-olah engkau telah memberiku minum, begitu juga ketika hambaku yang tidak berpakaian dan sakit, engkau telah memberinya pakaian dan menjenguknya, engkau tidak memberikan hamba itu pakaian, engkau tidak menjenguknya, tapi pada hakikatnya engkau telah memberiku (Tuhan) pakaian dan telah menjengukku, karena itu masuklah, masuklah kedalam sorgaku, Jadi Maksud dari wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquwn disini adalah memberikan perhatian kepada kita supaya seberapapun daya dan kekuatan yang didapatkan oleh seorang mukmin dari Allah ta’ala, maka dia (mu’min) itu wajib untuk menggunakan kekuatan itu hanya untuk kebaikan umat manusia, dan janganlah bahagia hanya dengan dia sudah memberikan rupiah, sudah mendirikan shalat, sudah berpuasa.
Perhatikanlah, suatu saat Rasulullah SAW pernah membuat satu gerakan pengorbanan harta, maka ada seorang sahabat yang tidak memiliki apa-apa, dia membawa dua butir manisan dari biji-bijian lalu di persembahkan dihadapan Rasulullah SAW. Setelah melihat pemandangan ini, para munafiqin tertawa dan mengatakan,’nah, sekarang dunia akan meraih kemenangan dengan dua butir manisan dari biji bijian. Padahal seandainya mata (orang munafiq) itu bisa berbicara, maka dia akan menganggap bahwa itu bukanlah dua butir manisan dari biji-bijian, tapi merupakan dua tetesan darah dari hati yang gelisah/tidak berdaya dalam mencintai Allah yang telah dia persembahkan kehadapan Rasulullah SAW dan dunia selalu menang dengan tetesan darah dari hati, bukanlah dengan sarana-sarana duniawi. Jadi tanda akan sempurnanya keimanan adalah bahwa apapun yang kalian makan di dirumah-rumah kalian, apapun yang kalian hasilkan dari mata pencaharian kalian, apapun yang kalian pakai, apapun yang kalian belanjakan, berikanlah satu bagiannya kehadapan Allah Ta’ala dan gunakanlah kekuatan kalian hanya semata-mata untuk kebaikan dan kemaslahatan umat manusia.

(Tafsir Kabir jilid 6, hal 52,53)
Penerjemah:Mahmud Ahmad Wardi

Read More......

[+/-] Selengkapnya...

Minggu, 01 Maret 2009

Keutamaan Laailaaha illallaah (Laa Nabiyya Ba'diy)


Hazrat Aisyah ra melarang orang-orang mengatakan Laa nabiyya ba’diy, supaya dia tidak terjerumus pada akidah yang salah. Seperti yang terdapat dalam hadits, diriwayatkan ketika Rasulullah SAW sedang duduk di mesjid, terus Beliau berdiri dan pergi keluar, sudah cukup lama Beliau belum kembali. Para sahabat khawatir, kemana gerangan perginya Rasulullah SAW, padahal pada saat itu keadaan sedang genting dari arah Syams, jangan-jangan kaum Kristen akan menyerang Madinah, karena itu timbul fikiran pada para sahabat, musuh akan menyerang, lalu Mereka mencari Rasulullah SAW kesana kemari. Abu Hurairah berkata, ketika mencari Beliau SAW, tiba-tiba saya sampai di sebidang kebun, terlihat pintu yang besar tertutup, tapi saya tidak tahan, akhirnya saya masuk ke sebuah lubang (gua), ternyata disana dijumpai Rasulullah SAW, Abu Hurairah berkata, “Ya Rasulallah Kami sudah khawatir, kami tidak tahu tuan pergi kemana? Sekarang Tuan sudah saya jumpai, rasanya lega.

Rasulullah SAW bersabda, :”Pergilah Abu Hurairah, dan siapapun yang kamu jumpai, katakan kepadanya man qola laa ilaaha illallaah, dakholal jannah artinya yang mengatakan laa ilaaha illallaah dia akan masuk surga. Hazrat Abu Hurairah bertanya, Ya Rasulullah untuk perkara yang besar seperti ini siapa yang akan mempercayai?, kalu begitu Tuan berikan kepada saya sebuah tanda (supaya diyakini sabda ini dari Rasulullah SAW), Beliau SAW memberikan sepatunya kepada Hz Abu Hurairah. Ketika Beliau ra keluar dari pintu, pada saat itu datang Hz Umar ra, Hazrat Abu Hurairah ra seketika itu melihat Hz Umar ra langsung menyampaikan hadits itu bahwa Rasulullah saw bersabda kepada saya,” Dengan siapapun saya berjumpa, maka saya harus sampaikan kabar suka ini “ man qola laa ilaaha illallaah, dakholal jannah” , mendengar hal itu seketika itu Hazrat Umar memukul dada Hz Abu Hurairah dengan kerasnya dan berkata: “ apakah kamu ingin merusak keimanan orang-orang? Langsung Hazrat Abu Hurairah pergi berlari ke hadapan Rasulullah SAW dan mengatakan,” Ya Rasulullah! Hazrat Umar telah memukul saya. Tuan yang telah mengatakan kepada saya untuk menyampaikan hadits ini, kepada siapapun yang saya jumpai, lalu saya (berjumpa dengan Umar) menyampaikannya pada Umar, tapi dia malah memukul saya.

Setelah itu Hazrat Umar pun sampai dihadapan Rasulullah saw, Beliau ra mengatakan,” Ya Rasulullah, Tuan bersabda demikian kalau ada yang mengatakan laa ilaaha illallaah dia akan masuk surga? Beliau saw menjawab: Ya. Hazrat Umar bertanya Kalau begitu orang-orang yang lemah dia akan meninggalkan amalan. Beliau SAW bersabda: baik sekali, kalau begitu hentikan pengumuman ini. Seolah-olah Beliau SAW mengatakan sesuatu, tapi Beliau sendiri mengatakan untuk jangan menyebarkannya. Sebagian orang beranggapan keliru bahwa karena kabar ini sudah sampai kepada Hazrat Umar, jadi kabar suka ini untuk Hazrat Umar saja, karena itu Rasulullah SAW bersabda jangan katakan lagi hal ini kepada orang lain. sebenarnya mukhatibnya adalah setiap orang mukmin lah dan maksud Rasulullah SAW adalah orang yang mengatakan Laa ilaaha Illaallah dengan hati yang tulus dan mengamalkannya, dia pasti akan masuk surga. Bagaimana bisa seseorang yang beriman kepada Allah Ta’ala, tapi dia tidak mengamalkan perintah-perintahnya.
Maksudnya adalah kalau ada orang yang membaca ini dengan niat yang tulus dan ikhlas, dia pasti akan menjadi ahli surga, maksudnya bukanlah hanya dengan membaca dalam mulut saja orang akan masuk ke surga. Sebagaimana anggapan kaum muslimin saat ini, bahwa setelah mengatakan Laa ilaaha illallaah, maka tidak perlu lagi mengamalkan amalan-amalan. Maksudnya, dengan melihat kesalah fahaman orang-orang, Hazrat Umar ra datang ke hadapan Hazrat Rasulullah SAW untuk mengizharkan bahwa ,”Ya Rasulallah! Orang-orang akan mengambil makna yang naqli, dan akan mereka akan berkesimpulan bahwa sekarang tidak diperlukan lagi amalan-amalan. Beliau sendiri menghentikan hal ini.
Begitu juga Hazrat Aisyah pun berfkir bahwa dengan kalimat Laaa nabiyya ba’diy jangan sampai orang-orang menganggap bahwa didalam Islam tidak akan lahir lagi seorang wujud yang agung, dan pintu kenabian sudah tertutup untuk selama lamanya, karena itu Beliau melarang mengatakan Laa Nabiyya Ba’diy. Dan karena Khataman Nabiyyiin itu merupakan lafaz dari Quran Karim, sehingga orang tidak akan tertipu. Beliau ra bersabda:” Tentu katakan saja Khataman Nabiyyiin, tapi jangan katakan bahwa setelah Beliau SAW tidak akan ada lagi Nabi yang datang, dari ini jelaslah bahwa Hazrat Aisyah yakin secara total bahwa mengakui terputusnya kenabian itu adalah bertentangan dengan Talim Islam, Jikalau tidak, kalaulah segala jenis pintu kenabian tertutup, maka apa perlunya Beliau berkata seperti Itu bahwa La taquuluw laa nabiyya ba’dahu, padahal Lafaz ini sendiri terbukti dari Rasulullah SAW karena itu Beliau berkata seperti itu, bahwa menurut Beliau ra lafaz Khataman Nabiyyiin lebih terjaga dan kemungkinan untuk menimbulkan kesalah fahamannya sedikit juga merupakan alfaz Al Quran, Jadi Beliau mengatakan katakanlah selalu lafaz ini. dan untuk alfaz yang kedua, yakni, yang dari sisi makna benar, tapi dari sebagian makna yang lain bisa menimbulkan kesalah fahaman, karena itu pada umumnya jangan biasakan gunakan lafaz itu (Laa Nabiyya Ba’diy) ….
(Tafsir Kabir)
Penerjemah :Mahmud Ahmad Wardi

Read More......

[+/-] Selengkapnya...

ShareThis

 

Kembali lagi ke atas